Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2009

Pemilu 2009 : Bayi Tabung DPT (Daftar Pemilih Tipuan)

PRIMADONA pemilu 2009 ternyata bukan partai, juga bukan caleg, melainkan DPT (daftar pemilih tetap) dan Herman S Sumawiredja, jenderal polisi bintang dua. Lho. kok polisi, bukannya politisi? Memang bukan politisi. Tapi polisi dan politisi sekarang kan nyaris tak ada bedanya. Paling tidak, itu yang dirasakan Irjen Herman. Soalnya, konon gara-gara mau menindak Ketua KPUD Jatim, yang “patut dapat diduga” menyulap DPT pada pilgub Jatim, sehingga kandidat dukungan partainya Presiden menang, jabatannya sebagai Kapolda Jawa Timur langsung dicopot Kapolri.
Petinggi Polri, ternyata juga seperti bos partai politik zaman Orba bila me-recall anggota DPRnya yang tidak sejalan, membantah keras Mabes intervensi urusan demokrasi. “Itu hanya pergantian antar-waktu biasa, PAW yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya!” Kita hanya bisa ketawa mendengar alasan klise parpol yang begini. Ketawa kita jadi lebih keras karena alasan model begini masih juga dipakai, oleh Mabes Polri lagi. Padahal zaman sudah kian transparan. Informasi apa pun gampang diakses. Termasuk info siapa yang bisa menembus mesin DPT, dan menggelembungkan angkanya.
Makanya, masuk akal bila bos sejumlah parpol, seperti Jusuf Kalla, Prabowo, Megawati, dan beberapa lainnya yang tak perlu disebut namanya, langsung meradang melihat modus operandi yang canggih di Jatim itu. Apalagi setelah terbukti di banyak tempat ternyata juga muncul DPT fiktif itu. Angka penggelembungannya berkisar antara 20 hingga 30 persen.
Jadi kalau total DPT nasional 171.265.442 sesuai Perppu No 1/2009, maka jumlah pemilih yang dikategorikan “pemilih siluman” itu sekurang-kurangnya 42,8 juta, setara dengan 25 persen. Artinya, bila pemilih siluman itu di-pool di satu partai, tanpa harus kerja keras dan cukup tiduran di rumah, parpol perekayasa DPT siluman itu sudah bisa dipastikan bakal lahir sebagai pemenang pemilu 2009.
Jadi bila ini dibiarkan, maka pemilu 2009 untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di muka bumi, akan melahirkan “bayi tabung”. Kok bayi tabung? Lho, bayi tabung itu kan bayi yang “proses pembuahannya” tidak melalui mekanisme biologis biasa. Sperma dan indung telur disatukan di dalam tabung di laboratorium. Setelah itu baru dikirim ke dinding rahim.Dalam pemilu, yang disebut rahim itu ya KPU. Jadi kalau KPU-nya penyakitan, apalagi kalau tidak jujur dan ada kankernya, dijamin bayi yang dilahirkannya bakal mengalami “cacat bawaan”. Itu yang terjadi pada pemilu 2004 lalu. Akibatnya sedang kita rasakan sekarang. Ada yang kerjanya bohong melulu, ada yang korupsi melulu, dan tidak sedikit yang bisu dan tuli bila menyangkut urusan perut rakyat.
Proses “pembuahan in vitro” dalam pemilu 2009 ini, menurut pengamatan ahli geneologi politik kita, biasanya dimulai dengan merekayasa hasil survei, kemudian dipublikasikan ke publik dengan amat gencarnya, tanpa alasan jelas apa urgensinya hasil survei itu diiklankan segala. Misalnya, menurut survei, Partai A dapat 10 persen, Partai B 15 persen, Partai C 20 persen, dan Partai D 25 persen, lalu dinobatkan sebagai pemenang pemilu, sebab sisanya diperebutkan oleh partai E, F, G, H, dst. Padahal pemilunya saja belum kejadian. Dalam ilmu tanaman, gaya begini disebut “planting”, tapi yang ditanam informasi sesat soal hasil survei itu.
Kalau DPT bisa disebut “sperma” demokrasi, maka surat suara adalah “indung telurnya”. Tapi dengan teknologi manipulasi yang canggih, “sperma siluman” itu dikawinkan dengan “indung telur fiktif”. Maksudnya, kertas suara dicontreng di luar TPS lalu ditanam di rahim KPU. Maka dengan “planting information” itu, membuat kita terlena. Percaya kalau Partai D sungguh-sungguh meraih suara 25 persen..
Pertanyaannya, apakah akan kita diamkan proses pemilu yang tidak wajar ini? Artinya kita membantu proses lahirnya anak siluman dalam rumah demokrasi kita. Kalau kita beragama dan bermoral, tentu akan menghentikan proses “bayi tabung” demokrasi yang ajaib dan palsu ini.

Rabu, 11 Maret 2009

HARI PARTAI


Maklumat itu berbunyi:MAKLUMAT PEMERINTAHPARTAI POLITIK.Andjuran Pemerintah tentangPembentukan Partai-partai Politik
Berhubung dengan usul Badan Pekerdja Komite Nasional Indonesia Pusat kepada Pemerintah, supaja diberikan kesempatan kepada Rakjat seluas-luasnja untuk mendirikan partai-partai politik, dengan retriksi, bahwa partai-partai politik itu hendaknja memperkuat perdjuangan kita mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan Masjarakat. Pemerintah menegaskan pendiriannja jang telah diambil beberapa waktu yang lalu, bahwa:1.Pemerintah menjukai timbulnja partai-partai politik, karena dengan adanja partai-partai itulah dapat dipimpin ke djalan jang teratur segala aliran paham jang ada dalam masjarakat.2.Pemerintah berharap supaja partai-partai politik itu telah tersusun, sebelumnja dilangsungkan pemilihan anggauta Badan-badan Perwakilan Rakjat pada bulan Djanuari 1946.Djakarta, 3 November 1945Wakil Presiden,MOHAMMAD HATTA.Dengan merujuk pada tonggak keluarnya “Maklumat Pemerintah 3 November 1945” di atas, sebuah tim kecil I:BOEKOE dibentuk untuk menuliskan kembali profil ringkas partai-partai politik Indonesia. Dan lahirlah buku Almanak Abad Partai Indonesia dan Dia.RI Partai Politik. Tujuan penyusunan kedua buku itu tiada lain merupakan usaha dari segelintir kalangan muda untuk merekam biografi partai-partai politik dari masa ke masa yang lahir, berkembang, dan bertarung dalam pemilu di mana kehadirannya telah memberi sederet catatan sejarah perpolitikan Indonesia. Beberapa partai yang tak sempat bertarung di puncak pesta rakyat semacam pemilu pun turut dicatat, sebab kemunculan mereka turut andil memberi refleksi jalan perpolitikan di sebuah negara kepulauan bernama Indonesia ini.Tak hanya menyusun segugusan asal kelompok dan usul ideologi dari partai-partai politik Indonesia sejak Indische Partai (IP) hingga Partai Kerakyatan Nasional (PKN) terbentuk, upaya ini pun menahbiskan sebuah hari yang menjadi pertemuan dari seluruh ingatan kolektif kita dari sekian praktik demokrasi yang sudah dilakukan selama puluhan tahun lengkap dengan cerita baik-buruknya. Jika minat dan perhatian masyarakat selepas Pemilu 2004 dan jelang Pemilu 2009 mulai menurun frekuensinya melihat kinerja partai yang kian lama kian elitis-pragmatis, tak kemudian membuat kita pesimis tentang masa depan kepartaian Indonesia. Sebagaimana Hatta pernah membayangkan masa depan demokrasi Indonesia dalam sebuah Maklumat Politik pada 1 November 1945: “Sejak kita akan mendapat kesempatan yang sepenuhnya untuk memberikan seluruh tenaga kita pada pembangunan rakyat dan bangsa kita, dengan secepat-cepatnya kita berusaha melaksanakan hak-hak rakyat kita yang sesungguhnya sesuai dengan cita-cita United Nations, yaitu tidak saja menjadi rakyat yang merdeka menyatakan pikirannya, merdeka memilih keyakinan dan agamanya, bebas dari sewenang-wenang dan kekuatan, bebas dari kekurangan, melainkan juga menjadi rakyat dan pendidikan yang modern untuk seluruh rakyat kita dan untuk segala lapisan penduduk.”Dengan segala optimisme yang mesti terus dinyalakan bagi masa depan demokrasi Indonesia lewat jalan berpartai, ditegaskan bahwa pada “3 November” menjadi Hari Kebangkitan Partai Indonesia. Inilah hari ketika untuk pertama kalinya secara resmi dari sebuah negara berdaulat, kehadiran partai diakui dan didorong kelahirannya untuk naik panggung, lewat sebuah maklumat pemerintah yang bersejarah yang bertanggal 3 November 1945. Dari momentum lahirnya Maklumat Pemerintah 3 November inilah pelbagai peristiwa berpartai bisa ditarik, dinilai dan dievaluasi, sekaligus menjadi acuan ingatan bersama untuk selalu menjaga semangat awal dari mana kita berpijak mengawal dan merawat demokrasi Indonesia dengan kebebasan berpendapat lewat jalan berpartai.

Senin, 23 Februari 2009

Presiden Guyonan


Judul: Presiden Guyonan
Penulis: Butet KartaredjasaTebal: xxiv + 285 halaman
Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta,Terbit: November 2008
Sebuah surat kabar memuat ratusan berita setiap harinya. Berbagai peristiwa dihadirkan ke hadapan pembaca.secara bertubui-tubi. Isu demi isu terus berganti setiap minggunya. Nyaris tidak ada isu yang dapat bertahan lama. Pembaca pun seperti mengalami amnesia isu.Ini adalah konsekuensi dari media massa yang selalu mengutamakan aktualitas. Aktualitas dan kecepatan menyiarkan sebuah berita menjadi menjadi sebuah keharusan. Padahal kedalaman sebuah berita juga diperlukan agar dimensi-dimensi dari sebuah berita dapat ditangkap oleh pembaca.
Oleh sebab itu, harus ada sebuah cara agar isu-isu yang mengemuka di media masa tidak terlindas begitu saja oleh isu-isu lain yang terus menjejali ruang pikiran pembaca. Cara ini harus dapat mengajak pembaca untuk melihat dimensi-dimensi lain dari sebuah peristiwa, merenungkan, merefleksikan, dan bahkan menginterpretasikannya
Untuk itulah sebuah kolom hadir di surat kabar. Kolom tidak hadir dengan perhitungan kecepatan dan aktualitas, meskipun persoalan yang dikemukakan dapat saja merupakan sesuatu yang aktual, tetapi selalu mengajak pembaca untuk sejenak melongok peristiwa tersebut dan memberikan diri untuk merenungkannya.
Tentu saja, untuk mencapai hal ini kolom harus hadir dengan format dan caranya yang berbeda dan khas. Di sinilah kepiawaian seorang penulis kolom dibutuhkan, dan Butet Kartaredjasa telah memilih caranya sendiri untuk mengajak pembaca melihat secara reflektif realitas yang ada di sekitarnya.
Untuk mengajak pembaca merenungkan persoalan atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat, Butet menghadirkan tulisan-tulisan yang dapat mengundang pembaca tersenyum atau bahkan tertawa. Kolom-kolomnya tidak hadir dengan cara yang memberat karena ia tahu, apabila persoalan yang disampaikannya saja sudah berat, maka tidak perlu lagi memberikan beban kepada pembaca dengan menghadirkan tulisan-tulisan yang sulit diicerna. Di sinilah letak salah satu kekuatan kolom-kolom ini.
Kelebihan lain kolom-kolom Butet yang pernah dimuat di harian Suara Merdeka di Semarang ini adalah hadirnya tokoh Mas Celathu bersama anggota keluarganya, yakni Mbakyu Celathu, istrinya, serta anak-anaknya. Lewat tokoh-tokoh inilah Butet menyajikan isu-isu penting yang mungkin terlupakan dalam dinamika kerja sebuah media.
Namun tokoh sentral Mas Celathu memang sangat dominan dalam kolom-kolom Butet ini. Lewat sosok inilah Butet menyampaikan buah pikirannya. Tokoh ini digambarkannya sering muncul dengan kegelisahan-kegelisahan, kegeraman-kegeraman, dan bahkan dengan kebingungan-kebingungannya sendiri, yang merupakan respon dari apa yang dilihat dan dicermati dari lingkungannya.
Mas Celtahu juga bukan hanya sosok sederhana yang terkadang terkesan selalu bebas berbicara, tukang njeplak, dan tajam dalam mengritik, tapi juga sering muncul dengan gagasan yang melawan mainstream. Sebut saja ketika ia bicara soal gay dan lesbian dalam kolomnya yang berjudul Psikopat Anyar. Dalam tulisan ini dikisahkan bagaimana Mas Celathu mencoba meluruskan anggapan umum masyarakat mengenai para gay dan lesbian yang terlanjur diberi cap negatif. Mas Celathu digambarkan mengajak masyarakat untuk menghargai keberadaan kelompok ini. Gay dan lesbian tidak selalu identik dengan pembunuhan kejam, mutilasi atau berbagai kejahatan lain. Justru mereka yang berprofesi mulia, dijangkiti sindrom psikopat.Tidak hanya itu, Mas Celathu pun acap kali tergoda dan ”gatal” untuk memberikan komentar, tanggapan, pujian ataupun ejekan dari apa yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini sesuai dengan istilah celathu, yang dalam bahasa Jawa dapat berarti nyeletuk, menyahut, atau "menyambar" omongan orang lain. Alhasil, dengan cara yang jenaka, pentolan teater Gandrik ini, mengritik dan mengolok-olok berbagai kejadian atau keadaan yang menurutnya tidak tepat, melanggar aturan, ataupun keliru sama sekali.
Tetapi Butet tidak selalu memoisisikan Mas Celathu sebagai pengritik yang selalu bersih sehingga seakan-akan punya otoritas menunjuk kesalahan orang lain alias menghakimi. Di sisi lain justru ia menghadirkan Mas Celathu sebagai sosok yang manusiawi, yang sering khilaf, berbuat kekliruan, yang terkadang justru terjebak dalam kondisi atau persoalan yang sebelumnya sering ia kritik.
Simak saja di kolom berjudul Isteri Bernyali. Dalam kolom ini dikisahkan Mas Celathu tergoda untuk "berbisnis" di lokasi yang tertimpa bencana alam. Ia melihat di lokasi bencana alam inilah ia bisa meraup keuntungan dengan berdagang berbagai benda yang dibutuhkan oleh mereka yang tertimpa bencana alam. Namun ide tersebut dimentahkan begitu saja oleh sang istri. Sang istri menilai gagasan tersebut tidak etis karena mencari keuntungan di atas kesusahan orang lain. Diserang seperti itu, Mas Celathu pun mengkeret tak berkutik. Rupanya Mas Celathu yang doyan memarahi penguasa pun bisa tunduk terhadap istrinya.
Salah satu kelebihan kolom-kolom dalam Presiden Guyonan ini adalah bagaimana Butet memakai istilah-istilah dalam bahasa Jawa. Ini wajar saja, sebab kolom ini memang hadir di tengah-tengah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa. Tetapi toh persoalan yang disampaikan bukan persoalan primordial, tetapi persoalan yang lebih luas lagi spekttrumnya, persoalan. Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa justru membuat kolom ini lebih hidup, lebih "berbumbu" sehingga unsur humor yang dibangun di dalamnya lebih kental. Mereka yang tidak terlalu paham bahasa Jawa dapat melihat arti atau makna dari istilah-istilah tersebut di bagian akhir buku ini.
Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa yang dilakukan oleh Butet tersebut, mengingatkan kita kepada kolom-kolom almarhum Umar Kayam yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Dalam kolom-kolom tersebut Umar Kayam juga menggunakan istilah-istilah Jawa yang begitu mengena. Dengan istilah-istilah itu justru sendirian, ejekan, ataupun kritik yang dilontarkan menjadi lebih "ciamik" untuk dinikmati.
Catatan lain dari kolom-kolom Butet ini adalah, ia menggunakan "logika terbalik" untuk memaknai masalah-masalah yang ditulis. Hal yang dimaksudkan di sini adalah, apabila sebuah persoalan dipandang serius, seseorang cenderung merseponnya dengan serius pula. Bahkan, sejumlah teori Barat--baik teori politik, ekonomi atau sosial--digunakan untuk memaknai dan mencarikan jalan keluar dari persoalan yang ada.
Namun tidak demikian dengan Butet. Dalam kolom-kolomnya ini, ia justru merseponnya dengan cara yang ringan, sederhana, bahkan cenderung melucu. Persoalan-persoalan yang ada selalu dihampirinya dengan cara yang membuat orang tergelitik. Inilah yang dimaksudkan "logika terbalik". Sesuatu yang tampak serius, ”angker” atau bahkan elit, di kolom-kolom justru diresponnya hanya dengan tertawa. Di sini Butet seperti ingin mengajak pembaca menghampiri setiap masalah dengan cara yang terbalik. Ia seperti ingin berkata, buat apa susah-susah merunyamkan pikiran hanya karena memikirkan persoalan yang sudah terlalu ruwet. Lebih baik hadapi saja dengan senyum. Buat apa mengerutkan dahi karena melihat kesedihan yang terlampau menyedihkan, lebih baik tertawa saja agar kesedihan itu lebih dapat dapat terobati.***