Tampilkan postingan dengan label Taman Bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Bacaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2010

DARI TAMAN BACAAN MENUJU PERPUSTAKAAN



Sangat mengembirakan bahwa banyak pihak mendirikan taman bacaan guna menarik minat baca masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa taman bacaan lebih menarik daripada perpustakaan karena “bayangan perpustakaan sebagai tempat yang ‘serius’, kotor, berdebu, dengan penjaga yang sudah tua dan berkacamata tebal”.
Suatu gambaran karikatur belaka. Jika istilah taman bacaan lebih menarik daripada istilah perpustakaan, maka hal itu tidak mejadi masalah. Apalah arti sebuah nama: “what is in a name”, kata Shakerpeare. Tetapi, jika ada yang mengusulkan bahwa “taman bacaan jadi prioritas diberi subsidi dan didorong menjadi kios buku”, maka hal itu perlu mendapat perhatian serius.
Taman bacaan tentunya mempunyai koleksi buku, jadi pada dasarnya sama dengan perpustakaan. Karena taman bacaan terbuka untuk umum, maka taman bacaan dapat disejajarkan dengan perpustakaan umum dalam bentuknya yang paling sederhana, hanya menyediakan buku untuk bisa digunakan oleh masyarakat umum. Jadi dari berita Kompas tadi yang diharapkan adalah “taman bacaan jadi prioritas diberi subsidi dan didorong menjadi perpustakaan (umum) yang lengkap”.
Taman bacaan jangan didorong menjadi kios buku, yaitu toko kecil tempat berjualan buku, Koran, dsb. (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia). Buku di taman bacaan bebas untuk dibaca, sedang buku di kios untuk dijual. Begitu taman bacaan dijadikan kios buku,begitu masyarakat akan kehilangan tempat membaca buku tanpa dipungut bayaran. Jangan sampai terulang kejadian yang melanda 15.000 perpustakaan rakyat (baca: perpustakaan umum) yang pernah ada di Indonesia menurut laporan A.G.W Dunningham (konsultan Unesco) tahun 1954, tetapi kini hilang tak berbekas.
Minat baca yang tumbuh lewat taman bacaan jangan sampai hilang, harus dipertahankan dan dipelihara dengan menyediakan perpustakaan umum dengan koleksi buku yang lebih bervariasi, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bacaan untuk rekreasi, seperti biografi, buku pengetahuan umum, Koran, majalah, novel dan puisi.
Buku, Koran, dan majalah termasuk komoditi yang mahal di Indonesia.
Perpustakaan umum menjadi tempat yang ekonomis bagi para penggemar membaca yang ingin membaca/meminjam buku. Setiap kota/kabupaten selayaknya mempunyai perpustakaan umum yang tidak hanya mempunyai koleksi buku dan menjadi perpustakaan rujukan bagi masyarakat umum, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan, lengkap dengan ruang pamer dan auditorium. Taman bacaan adalah ibarat perpustakaan dalam pertumbuhan .
Buku-buku yang akan dimasukan ke dalam koleksi taman bacaan seharusnya melalui proses pemilihan atau seleksi sesuai dengan lingkungan masyarakat yang akan dilayani. Kemudian Dana merupakan unsur yang sangat penting untuk menjamin aliran buku-buku baru ke taman bacaan. Ibarat organisme hidup, taman bacaan tumbuh dengan adanya aliran buku-buku tersebut. Subsidi yang akan diberikan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Perpustakaan Nasional berarti bahwa taman bacaan diperlakukan seperti organisme hidup.

Taman bacaan boleh saja tidak terkesan rapi dari luar, tetapi administrasi internalnya harus rapi, bagaimanapun kecilnya koleksi buku taman bacaan itu. Dengan koleksi buku yang belum seberapa jumlahnya, penempatannya di taman bacaan mungkin asal-asalan saja, karena tidak ada masalah untuk mencari kembali buku yang pernah menjadi milik taman bacaan tersebut.
Buku-buku yang dikirim ke taman bacaan biasanya ada daftar bukunya sebagai pengantar yang harus disimpan dalam arsip. Jika buku-buku pada daftar tersebut diberi nomor urut dan penomoran itu dilanjutkan pada daftar (-daftar) buku berikutnya yang diterima bersama kiriman buku-buku baru, maka setiap buku ada nomornya masing-masing. Jika nomor urut tersebut dicantumkan pada bukunya, maka buku-buku dapat disusun nomor urut. Tata susun menurut nomor urut adalah yang paling sederhana, dan paling mudah dipahami. Setidak-tidaknya dengan adanya nomor urut dapat diketahui berapa jumlah koleksi buku taman bacaan yang bersangkutan.
Andaikan taman bacaan hanya sampai di situ penerapan administrasi dan organisasinya, memang beralasan untuk menyebutnya taman bacaan dan tidak perpustakaan. Hal ini disebabkan karena perpustakaan harus mempunyai suatu sistem atau metode simpan dan temu kembali . Dengan metode ini setiap buku dalam koleksi perpustakaan dicatat data bukunya, disimpan berdasarkan tata susun tertentu untuk dapat ditemukan kembali jika diperlukan. Catatan-catatan data buku disusun dalam daftar yang disebut catalog. Catatan data buku harus dilengkapi dengan petunjuk lokasi bukunya. Katalog dan tata susun koleksi berfungsi sebagai sarana temu kembali . Lewat katalog perpustakaan, pembaca dapat mengetahui buku-buku apa saja yang terdapat dalam koleksi perpustakaan dari pengarang tertentu, judul tertentu, atau subyek tertentu. Dengan demikian tidak akan ada buku yang luput dari jangkauan para pembaca. Katalog dan tata susun koleksi harus didasarkan pada suatu metode atau sistem yang mudah dipahami dan mudah digunakan untuk mencari buku dari koleksi perpustakaan. Dalam bahasa komputer istilahnya harus userfriendly sehingga hematlah waktu untuk pemakai, dan hematlah waktu staf perpustakaan.
Ini semua berkaitan dengan teknik perpustakaan. Karena itu yang mengerjakan haruslah orang-orang yang terlatih dalam teknik perpustakaan.
Banyaknya partisipasi masyarakat untuk menggalakan minat baca memang menggembirakan. Taman bacaan bisa dijadikan langkah awal dalam menumbuhkan minat baca. Tapi hal tersebut tidak bias berhenti sampai di situ saja. Perlu dipertimbangkan langkah selanjutnya, terlebih bila minat baca itu telah tercapai. Proses riset literatur dengan skala paling sederhana perlu pula diajarkan pada pengguna taman bacaan. Di sinilah transformasi taman bacaan menjadi perpustakaan mulai dilakukan. Untuk itu perlu dibentuk sebuah pilot project dari sebuah taman bacaan yang telah berhasil menumbuhkembangkan minat baca untuk diubah menjadi perpustakaan umum.

Rabu, 06 Mei 2009

Mengenal dari Dekat Profil Taman Bacaan Jujur Pertama di Indonesia

Oleh: Hartono Sudjadi

Minat baca masyarakat kita sebenarnya cukup baik, hanya saja ada beberapa kendala yang menghambat antara lain sulitnya para peminat baca mendapatkan bahan bacaan meningat mahalnya harga buku terutama buku-buku bacaan berkwalitas sehingga sulit dijangkau terutama masyarakat menengah-bawah. Maka, cara satu-satunya untuk mengatasi kebutuhan buku bacaan adalah dengan mencari bahan bacaan ke Taman Bacaan atau Perpustakaan. Sedangkan umumnta taman bacaan dan perpustakaan selalu menerapkan aturan-aturan dan syarat-syarat yang dirasakan masyarakat begitu rumit dan ketat. Oleh karena itu maka tidak mengherankan bila minat masyarakat untuk datang ke taman bacaan dan perpustakaan menjadi diurungkan. Terlebih-lebih, perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah seperti Perpusda dan Perpusdes sudah barang tentu jam layanannya disesuaikan dengan jam kerja kantor, sehingga bagi masyarakat yang pada jam-jam tersebut sibuk, sama sekali tidak dapat memanfaatkan layanannya.
Gambaran nyata seperti itulah yang membuat kami, Pengelola Pondok Maos Guyub yang berlokasi di desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal memberanikan diri untuk mengambil keputusan dengan membuat terobosan menjadikan Taman Bacaan kami dikelola secara terbuka, dan tampil beda bila dibanding dengan taman bacaan lainnya dimana pun. Sejak awal berdirinya pada tanggal 27 Pebruari 2007 kegiatan kami bersifat amal dalam melayani masyarakat, khususnya dalam pelayanan kegiatan baca. Oleh karena itu sejak awal pula Pondok Maos Guyub sudah menerapkan cara layanan Taman Bacaan Jujur, artinya taman bacaan bukan saja hanya sebagai penyelenggara kegiatan baca membaca saja, tetapi juga taman bacaan bisa dijadikan sebagai forum pembelajaran bagi masyarakat sekitar agar dapat bersikap jujur, disiplin dan tertib serta memiliki rasa tanggung jawab.
Barangkali pembaca sudah sering mendengar atau mengetahui di sejumlah sekolah terdapat kantin kejujuran, maka kapan lagi ada taman bacaan jujur kalau tidak dimulai dari sekarang. Program kegiatan yang bersifat sosial tentunta harus didasaridengan rasa penuh keikhlasan serta ketulusan, oleh karena itu kalau kita benar-benar ingin menerapkan cara seperti Taman Bacaan Guyub, tentu rasa kekhawatiran akan kehilangan bahan bacaan tidak perlu ada. Berbuat baik dan tanpa pamrih untuk banyak orang tentu ada berkah dari Yang Maha Kuasa.
Cara layanan dan kegiatan pada Taman Bacaan Jujur memang berbeda dengan taman bacaan lainnya dimana pun. Oleh karena itu jangan pernah berani mencoba terjun pada kegiatan yang bersifat amal, jika sekiranya masih ada tersisa rasa takut dan khawatir kehilangan dan mengharap imbalan. Dalam kegiatan sirkulasi layanan bacaan sehari-hari taman bacaan kami tidak pernah menggunakan administrasi yang njlimet; kami tidak pernah menanyakan kartu pengenal seperti KTP, SIM dan sebagainya. Para calon anggota atau peminjam hanya cukup dihimbau baik secara lisan maupun tulisan dalam bentuk pengumuman. Peminjam dan anggota harus mau memberikan keterangan secara benar dan jujur tentang identitasnya seperti nama dan alamatnya. Dan, yang penting peminjam juga dihimbau agar bisa disiplin dan tertib dalam pengembalian buku yang dipinjam yaitu tidak lebih dari satu minggu serta ikut menjaga dan merawat buku yang dipinjam.


Dalam praktek sirkulasi sehari-hari, peminjam cukup menulis sendiri buku-buku yang akan dipinjam atau buku-buku yang dikembalikan dalam buku administrasi yang telah disediakan. Sehingga pengelola disini ada kesan seakan-akan tidak melayani anggota. Jadi pada Taman Bacaan Jujur untuk menjadi anggota dan peminjaman buku hanya dikenakan jaminan moral saja. Bagi orang yang memahami arti jaminan moral ini justru lebih berat, karena bagaimana pun jaminan moral sama halnya dengan jaminan harga diri seseorang.
Model layanan yang diterapkan ini ternyata justru menjadikan taman bacaan kami semakin maju, bukan malah bangkrut. Donatur buku sering berdatangan tanpa harus diminta, bahkan Pondok Maos Guyub sendiri sudah mampu menjadi donatur bagi Taman Bacaan yang lain bukan hanya taman bacaan yang berada di Kabupaten Kendal saja tetapi sudah melampaui luar jawa. Dalam pelayanannya Pondok Maos Guyub bisa menjangkau pelayanan hingga 600 anggota yang tersebar di 100 desa lebih termasuk yang ada di luar Kabupaten Kendal.
Hal lain yang dicetuskan oleh Pondok Maos Guyub adalah Pembentukan Forum Komunikasi Pengelola Taman Bacaan se Kabupaten Kendal. Hal ini merupakan wujud kepedulian Pondok Maos Guyub terhadap sesama peneglola taman bacaan di Kabupaten Kendal, agar dapat bersama-sama saling bahu membahu membawa kemajuan taman bacaan serta menggiatkan masyarkat agar dapat memiliki kegemaran membaca. Maka lewat tulisan ini kami sebagai pengelola Pondok Maos Guyub, Bebengan, Kabupaten Kendal, mengajak sesama pengelola taman bacaan dimana pun saja agar berani mencoba menjalankan kegiatan seperti yang kami lakukan selama ini. Yakin dan percayalah berbuat kebaikan terhadap orang lain senantiasa akan ada berkahNYA.

Selasa, 31 Maret 2009

Bantuan untuk Taman Bacaan Masih Minim

JUMLAH Taman Bacaan Masyarakat yang mendapatkan bantuan pemerintah masih sangat terbatas. Untuk tahun 2009, misalnya, dari total jumlah Taman Bacaan Masyarakat sekitar 5.400 unit, baru sekitar 375 taman bacaan yang mendapat bantuan pemerintah.
Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional Ella Yulaelawati mengatakan, Senin (23/3), bantuan yang diberikan Rp 15 juta untuk masing-masing taman bacaan tersebut.

Taman Bacaan Masyarakat pada dasarnya merupakan inisiatif masyarakat sesuai dengan kebutuhan di komunitasnya. Dia berharap pemerintah daerah dan masyarakat sekitar taman bacaan ikut ambil bagian dalam mengembangkan taman bacaan.

”Jika sudah demikian, taman bacaan tidak akan tersendat hanya karena tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Dalam diskusi pada acara orientasi pengelola Taman Bacaan Masyarakat di 33 provinsi di Surabaya, Sabtu (21/3), terungkap bahwa di tengah keterbatasan fasilitas fisik dan buku, taman bacaan, terutama di daerah-daerah, masih membutuhkan uluran tangan pemerintah. Selain itu, taman bacaan perlu membuat jaringan yang kuat. Dengan demikian, taman bacaan dapat saling bertukar buku agar koleksi yang tersedia beragam dan tidak membosankan pembacanya.

Dalam diskusi tersebut, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra mengatakan, kemajuan suatu bangsa ikut ditentukan oleh literasi masyarakatnya. Kemajuan peradaban di Baghdad dan Andalusia dimulai dari membaca. Dalam artian tidak sekadar membaca, melainkan disertai penggalian keilmuan. Peradaban tidak bisa dibangun tanpa budaya baca walaupun budaya baca bukan satu-satunya penentu peradaban suatu bangsa.

Dalam konteks pembangunan peradaban, taman bacaan dapat berperan. Di Taman Bacaan Masyarakat akan muncul kelompok pencinta buku dan diharapkan dapat terbangun kelompok diskusi sehingga terjadi tukar-menukar informasi. ”Dengan membaca, diskusi, serta menulis, ilmu dan pengetahuan terus terbangun,” ujarnya. (INE)

Kompas.com Selasa, 24 Maret 2009 |

Kamis, 05 Maret 2009

*PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENGOPTIMALKAN FUNGSI TAMAN BACAAN*

Perjalanan Taman Bacaan Anak keliling Nusantara telah sangat banyak membantu membuka mata hati saya untuk melihat betapa luas dan kayanya negara kita dengan begitu banyaknya kekayaan dan keragaman alam dan budaya yang merupakan tumpukkan harta karun terpendam yang memerlukan daya dan kekuatan kita semua sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia untuk menggalinya. Harta terpendam yang selama ini sering dibicarakan masyarakat, menurut saya pribadi ternyata adalah kekayaan budaya Nusantara yang perlu digali kembali sampai keakarnya dan dilestarikan sebagai bagian sejarah untuk dimiliki terus sampai generasi mendatang.Betapa kurangnya pengetahuan generasi kita mengenai karunia Illahi yang dimiliki tanah air Indonesia. Sebagai contoh yaitu saya sendiri, yang pernahbersekolah sampai ke Amerika dan melakukan perjalanan ke banyak negara lain nan jauh di sana namun sampai dimulainya perjalanan TBA (Taman Bacaan Anak) keliling Nusantara, saya hanya mengenal pulau Jawa, Bali, dan Sebagian Sumatra. Ternyata pengenalan nusantara sebagai diri sendiri, telah sangat menebalkan rasa cinta pada tanah air tidak hanya sebatas perjalanan yang dipelajari disekolah, atau lagu kebangsaan yang dinyanyikan bersama pada saat upacara namun benar-benar mengunjungi, melihat, mempelajari dan memahami secara langsung dengan segenap permasalahannya.Menurut hemat saya, mungkin selama ini tanpa disadari kita telah memfokuskan diri pada wawasan metropolis dan pulau Jawa sebagai pusat kekuatan hingga lupa memperluasnya menjadi wawasan kenusantaraan. Banyak orang memimpikan untuk bisa datang ke Ibukota karena terpukau dengan apa yang dilihat di media televisi, mungkin sudah saatnya kita membalik tujuan kunjungan ke berbagai daerah di tanah air untuk dikenali, dipelajari, dan dicintai. Sudah saatnya kita bersama-sama melakukan pemberdayaan kekuatan masyarakat, ibaratnya bagaikan membangunkan macan-macan tidur. Bagaikan mengaktifkan kembali zat antibodi yang ada di dalam tubuh. Dan tidak lagi menjadikan pemerintah sebagai satu-satunya sumber kekuatan yang akan menarik roda pembangunan.Dimulai darimana? Pemerataan keadilan melalui pemerataan pendidikan bagisemua sebagai prioritas pembangunan saat ini. Pendidikan untuk menciptakansumber daya manusia yang benar, tidak hanya pandai. Keseimbangan pendidikanantara pengetahuan dan akhlak diharapkan dari sana, kita semua dari Sabangsampai Merauke dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Menciptakanrasa percaya diri yang mantap sehingga tidak dapat kesatuan dan persatuankita dipecahbelahkan oleh kekuatan dari luar. Dapat menganalisa kekuatandiri dan mengembangkannya untuk kepentingan bangsa.Berbagai cara dapat diusahakan untuk mencapainya. Asalkan kita semua mauberbuka hati dan berlapang dada untuk mencoba segala kemungkinan danmenjajaki masukan-masukan baru. Sistem pembelajaran seharusnya disesuaikandengan karakter daerah masing-masing. Itu mungkin akan lebih mudah daripadamemaksakan satu sistem untuk diberlakukan di semua tempat, walapun garisbesarnya tetap sama. Contoh bagi masyarakat Papua yang dasarnya adalahnomaden hidup dari berburu, akan sulit menerima suatu sistem yang biasaberlaku di tanah Jawa di mana masyarakatnya biasa menetap dan mengembangkandaerahnya. Karenanya sistem belajar dan pengembangan daerahnya tentu akanberbeda. Pada intinya mungkin kita semua sebaiknya belajar membaca, tidaksaja dengan pikiran tapi juga dengan mata hati.Menggairahkan minat baca sebaiknya dimulai sejak dini, para ahli bahkanmenyatakan ibu hamil sebaiknya membaca cerita dan memperdengarkan musik bagianak yang masih berada dalam kandungan ibunya.Mengapa membaca begitu penting? Karena dengan membaca akanterbukalah segala pengetahuan yang ada di alam semesta ini yang diizinkanoleh Sang Pencipta untuk kita ketahui. Namun membaca bukanlah dan tidakharus merupakan paksaan karena kalau kita sudah merasakan nikmat danfaedahnya, membaca akan menjadi suatu kebutuhan.Kebiasaan membaca harus dimulai dari rumah. Jangan pernah mengharapkananak-anak kita suka membaca kalau kita sebagai orang tua tidak suka membaca.Suatu rumah akan menjadi istana baca jika di setiap sudutnya ada bacaan yangmudah diakses anak-anak kita. Biasakan juga memiliki buku-buku kecil ataubuku-buku saku yang bisa dibawa-bawa dengan mudah untuk dibaca di waktusenggang. Kenikmatan membaca buku berbeda dengan menggunakan komputer yangdatanya terbatas. Sedangkan membaca buku dapat dilakukan di mana sajaseperti di kebun, di kamar, di toko, dan sebagainya.Pada hakekatnya pendidikan dan pengetahuan adalah suatu kebutuhan manusiayang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sebabmanusia yang hidup tapi tanpa diisi dengan pendidikan dan pengetahuan yangcukup akan menjadi korban penjajahan kebodohannya sendiri sehingga dapatmengurangi kemampuannya berinteraksi secara seimbang dengan sesamanya danlingkungannya, sehingga dapat menimbulkan suatu hubungan superior versusinferior atau dominan versus tertindas.Sumber dari pendidikan diantaranya adalah dari keluarga, sekolah, temanmain, guru, masyarakat, dan alam semesta. Jenis pendidikan dapat berupapendidikan formal seperti perpustakaan atau taman bacaan. Namun dariperjalanan sejarah kehidupan manusia, pendidikan umum tanpa didasaripengetahuan agama, moral, dan akhlak yang baik bisa menjerumuskan kitakepada kehancuran.Bagi ibu rumah tangga yang biasa mengatur belanja kebutuhanrumah tangganya, belanja buku bisa dijadikan suatu rutinitas dan dimasukkandalam anggaran bulanan. Manfaat membeli buku jauh lebih besar dari membelimainan atau rekreasi lainnya, karena selain buku mengandung unsur pendidikannamun juga mengandung nilai rekreasi dan dapat disimpan untuk dibacaberulang-ulang. Tentunya orang tua dapat membantu memilih buku-buku yangakan dibeli.Dengan membiasakan kesukaan membaca sejak kecil, secara tidak langsungmenambah kekayaan perbendaharaan kata anak-anak kita sehingga dapat menggalikemampuannya menulis, entah sebagai penulis atau untuk keperluan pendidikanlebih lanjut. Karena saya menemukan kasus-kasus menyedihkan di mana adapelajar-pelajar atau mahasiswa yang mendapat kesulitan untuk menuliskan buahpikirannya, sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk mengerjakantugas-tugasnya. Negara kita masih membutuhkan begitu banyak penulis agarbanyak bentuk bacaan yang dapat diterbitkan sehingga toko-toko buku danperpustakaan bisa menjadi salah satu pusat pembelajaran.Ada berbagai bentuk perpustakaan yang kita ketahui seperti;Perpustakaan Negara, Kantor Lembaga atau Instasi, Umum, Sekolah, Masyarakat,Pos Kelilling, dan Perpustakaan Desa, bahkan yang ada di dalam rumah kitasendiri. Namun sering kali masih kita dapatkan hal yang menyedihkan seperiperpustakaan yang lemari-lemarinya selalu terkunci, jumlah dan jenis bukuyang minim, penampilan perpustakaan, dan penempatan buku yang kurangmenarik, lokasi perpustakaan yang sulit dijangkau, sampai pada petugasperpustakaan yang berwajah angker dan kurang ditujang pengetahuan yang cukupsebagai pustakawan yang seharusnya menyadari tugasnya yang sangat pentingyaitu tidak hanya membantu pelanggan yang mencari buku yang dibutuhkan,namun juga mampu mempromosikan fasilitas-fasilitas yang ada di perpustakaansecara menarik serta berorientasi marketing sampai menciptakankegiatan-kegiatan kreatif yang dapat menggairahkan kehidupan perpustakaan.Sebagai langakah awal, mungkin sebaiknya dimulai dengan menciptakankebiasaan baca dan mendirikan sudut-sudut baca di dalam rumah kita sendiriyang mudah diakses oleh setiap anggota keluarga sehingga menjadi suatukebutuhan. Untuk di sekolah, dapat dilakukan sudut-sudut baca di setiapkelas, yang ditata sedemikian rupa sehingga murid-murid di sela-sela waktuistirahatnya dapat membaca di dalam kelas atau murid diwajibkan membaca satujudul buku setiap minggunya dan sudut baca ini dapat dilombakan kelas manayang mempunyai sudut baca terbaik. Penilaiannya mungkin dari penataannya,kualitas bacaan, dan banyaknya pembaca. Sumber buku bacaan dapat diperolehdari sumbangan setiap murid atau orang tua murid ataupun dari sumberlainnya.Dengan adanya sudut baca di dalam kelas setidaknya menjadisaluran bagi murid-murid yang mempunyai minat atau bakat dalam menulis ataugemar membaca. Dan dengan adanya sudut baca dapat mengajarkan siswa untukmerawat dan mencintai buku yang dimilikinya untuk disimpan dengan baik.Alangkah senangnya jika kelak anak-anak kita sudah dewasa mereka masihmemiliki buku-buku lama yang mungkin sudah tidak diterbitkan lagi.Anak-anak kecil pada umumnya suka membaca buku yang penuh gambar danwarna-warni. Hal ini adalah normal. Sedikit demi sedikit kita mengajarkananak membaca buku dengan lebih sedikit gambar dan tulisan berhuruf besar.Lalu tulisan diperbanyak, gambar hanya sebagai ilustrasi saja sampaiakhirnya anak mampu membaca buku tanpa gambar atau koran yang sebagian besartulisannya berhuruf kecil.Saya sendiri mulai mengajak anak saya yang masih di sekolahdasar untuk mulai menyukai koran sebagai sumber berita dengan memilihkanartikel-artikel flora dan fauna bergambar yang sangat disukainya. Atau untukanak saya yang remaja, pada awalnya dimulai dengan membaca artikel-artikelyang disukai anak muda, di mana sekarang dia sudah membaca koran secarakeseluruhan.Sedangkan untuk anak-anak yang datang ke Taman Bacaan, sayamencoba memotivasinya dengan menganjurkan untuk setiap buku pengetahuan yangdibaca, boleh membaca satu buku cerita kesukaannya. Tapi saat ini untungnyamulai banyak buku-buku pengetahuan yang memiliki bentuk-bentuk dangambar-gambar yang cukup menarik. Khususnya untuk Taman Bacaan Anak BebasBiaya di daerah padat penduduk berbasis ekonomi lemah yang kami dirikan,dimaksudkan untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mungkin mempunyaisudut-sudut baca di rumahnya ditinjau dari keterbatasan ruangan dan dananya.Untuk daerah yang sedang atau baru mengalami masalah-masalahseperti bencana alam, kemiskinan, kerusuhan dan sebagainya yang sulitfasilitas penunjang, seperti contohnya daerah Ambon, sebaiknya di beberapasekolah yang jaraknya tidak begitu jauh dapat didirikan satu perpustakaanmemadai dipergunakan bersama untuk wilayah tersebut yang dapat menunjangkegiatan sekolah. Sehingga sekolah-sekolah tersebut dapat menjadikanperpustakaan tersebut sebagai pusat kegiatan membaca, berkreasi maupunkegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan sekolah mereka.Kita juga dapat mengajak masyarakat setempat yang pedulilingkungan untuk berpartisipasi mendirikan Taman Bacaan Anak (TBA), sepertisebagai contoh di daerah Kalimantan Timur di desa Batuah di mana penduduknyamayoritas adalah petani lada. Taman Bacaan didirikan di atas rumah panggung.Sehingga ini diharapkan menjadi *pilot project* untuk pengembangan tamanbacaan di daerah lain.Untuk itu belajar dan ilmu pengetahuan, tidak hanya didapat dari sekolahformal tetapi juga dari lingkungan non formal. Pada perjalanannya ternyataTaman Bacaan Anak (TBA) tidak hanya sebagai penunjang sekolah-sekolah formalyang ada, tetapi juga sebagai alternatif bagi anak yang tidak mendapatkankesempatan untuk bersekolah di sekolah formal. Seperti di Desa Tangkil,Lido, Jawa Barat di bawah kaki gunung Gede, didirikan sebuah Taman BacaanAnak yang bernama "Amanah Corry" yang menjadi pusat belajar alternatif bagianak-anak di desa itu. Dikarenakan apabila mereka ke sekolah umumperjalanannya harus naik ojek seharga Rp. 5.000,- sekali jalan sedangkanpenghasilan ayahnya sebagai petani di sana hanya sebesar Rp. 12.000,- perhari.Dengan adanya Taman Bacaan Anak di sekitar rumahnya, anak-anakdapat belajar sambil bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Disitu juga diusahakan untuk menggali kreatifitas anak serta menanamkannilai-nilai akhlak dan moral sejak dini. Harapan kami anak-anak pemilik masadepan ini akan mempunyai hidup yang lebih bermakna jika mempunyai keindahanotak dan hati.Insya Allah.Wassalam.