Perjalanan Taman Bacaan Anak keliling Nusantara telah sangat banyak membantu membuka mata hati saya untuk melihat betapa luas dan kayanya negara kita dengan begitu banyaknya kekayaan dan keragaman alam dan budaya yang merupakan tumpukkan harta karun terpendam yang memerlukan daya dan kekuatan kita semua sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia untuk menggalinya. Harta terpendam yang selama ini sering dibicarakan masyarakat, menurut saya pribadi ternyata adalah kekayaan budaya Nusantara yang perlu digali kembali sampai keakarnya dan dilestarikan sebagai bagian sejarah untuk dimiliki terus sampai generasi mendatang.Betapa kurangnya pengetahuan generasi kita mengenai karunia Illahi yang dimiliki tanah air Indonesia. Sebagai contoh yaitu saya sendiri, yang pernahbersekolah sampai ke Amerika dan melakukan perjalanan ke banyak negara lain nan jauh di sana namun sampai dimulainya perjalanan TBA (Taman Bacaan Anak) keliling Nusantara, saya hanya mengenal pulau Jawa, Bali, dan Sebagian Sumatra. Ternyata pengenalan nusantara sebagai diri sendiri, telah sangat menebalkan rasa cinta pada tanah air tidak hanya sebatas perjalanan yang dipelajari disekolah, atau lagu kebangsaan yang dinyanyikan bersama pada saat upacara namun benar-benar mengunjungi, melihat, mempelajari dan memahami secara langsung dengan segenap permasalahannya.Menurut hemat saya, mungkin selama ini tanpa disadari kita telah memfokuskan diri pada wawasan metropolis dan pulau Jawa sebagai pusat kekuatan hingga lupa memperluasnya menjadi wawasan kenusantaraan. Banyak orang memimpikan untuk bisa datang ke Ibukota karena terpukau dengan apa yang dilihat di media televisi, mungkin sudah saatnya kita membalik tujuan kunjungan ke berbagai daerah di tanah air untuk dikenali, dipelajari, dan dicintai. Sudah saatnya kita bersama-sama melakukan pemberdayaan kekuatan masyarakat, ibaratnya bagaikan membangunkan macan-macan tidur. Bagaikan mengaktifkan kembali zat antibodi yang ada di dalam tubuh. Dan tidak lagi menjadikan pemerintah sebagai satu-satunya sumber kekuatan yang akan menarik roda pembangunan.Dimulai darimana? Pemerataan keadilan melalui pemerataan pendidikan bagisemua sebagai prioritas pembangunan saat ini. Pendidikan untuk menciptakansumber daya manusia yang benar, tidak hanya pandai. Keseimbangan pendidikanantara pengetahuan dan akhlak diharapkan dari sana, kita semua dari Sabangsampai Merauke dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Menciptakanrasa percaya diri yang mantap sehingga tidak dapat kesatuan dan persatuankita dipecahbelahkan oleh kekuatan dari luar. Dapat menganalisa kekuatandiri dan mengembangkannya untuk kepentingan bangsa.Berbagai cara dapat diusahakan untuk mencapainya. Asalkan kita semua mauberbuka hati dan berlapang dada untuk mencoba segala kemungkinan danmenjajaki masukan-masukan baru. Sistem pembelajaran seharusnya disesuaikandengan karakter daerah masing-masing. Itu mungkin akan lebih mudah daripadamemaksakan satu sistem untuk diberlakukan di semua tempat, walapun garisbesarnya tetap sama. Contoh bagi masyarakat Papua yang dasarnya adalahnomaden hidup dari berburu, akan sulit menerima suatu sistem yang biasaberlaku di tanah Jawa di mana masyarakatnya biasa menetap dan mengembangkandaerahnya. Karenanya sistem belajar dan pengembangan daerahnya tentu akanberbeda. Pada intinya mungkin kita semua sebaiknya belajar membaca, tidaksaja dengan pikiran tapi juga dengan mata hati.Menggairahkan minat baca sebaiknya dimulai sejak dini, para ahli bahkanmenyatakan ibu hamil sebaiknya membaca cerita dan memperdengarkan musik bagianak yang masih berada dalam kandungan ibunya.Mengapa membaca begitu penting? Karena dengan membaca akanterbukalah segala pengetahuan yang ada di alam semesta ini yang diizinkanoleh Sang Pencipta untuk kita ketahui. Namun membaca bukanlah dan tidakharus merupakan paksaan karena kalau kita sudah merasakan nikmat danfaedahnya, membaca akan menjadi suatu kebutuhan.Kebiasaan membaca harus dimulai dari rumah. Jangan pernah mengharapkananak-anak kita suka membaca kalau kita sebagai orang tua tidak suka membaca.Suatu rumah akan menjadi istana baca jika di setiap sudutnya ada bacaan yangmudah diakses anak-anak kita. Biasakan juga memiliki buku-buku kecil ataubuku-buku saku yang bisa dibawa-bawa dengan mudah untuk dibaca di waktusenggang. Kenikmatan membaca buku berbeda dengan menggunakan komputer yangdatanya terbatas. Sedangkan membaca buku dapat dilakukan di mana sajaseperti di kebun, di kamar, di toko, dan sebagainya.Pada hakekatnya pendidikan dan pengetahuan adalah suatu kebutuhan manusiayang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sebabmanusia yang hidup tapi tanpa diisi dengan pendidikan dan pengetahuan yangcukup akan menjadi korban penjajahan kebodohannya sendiri sehingga dapatmengurangi kemampuannya berinteraksi secara seimbang dengan sesamanya danlingkungannya, sehingga dapat menimbulkan suatu hubungan superior versusinferior atau dominan versus tertindas.Sumber dari pendidikan diantaranya adalah dari keluarga, sekolah, temanmain, guru, masyarakat, dan alam semesta. Jenis pendidikan dapat berupapendidikan formal seperti perpustakaan atau taman bacaan. Namun dariperjalanan sejarah kehidupan manusia, pendidikan umum tanpa didasaripengetahuan agama, moral, dan akhlak yang baik bisa menjerumuskan kitakepada kehancuran.Bagi ibu rumah tangga yang biasa mengatur belanja kebutuhanrumah tangganya, belanja buku bisa dijadikan suatu rutinitas dan dimasukkandalam anggaran bulanan. Manfaat membeli buku jauh lebih besar dari membelimainan atau rekreasi lainnya, karena selain buku mengandung unsur pendidikannamun juga mengandung nilai rekreasi dan dapat disimpan untuk dibacaberulang-ulang. Tentunya orang tua dapat membantu memilih buku-buku yangakan dibeli.Dengan membiasakan kesukaan membaca sejak kecil, secara tidak langsungmenambah kekayaan perbendaharaan kata anak-anak kita sehingga dapat menggalikemampuannya menulis, entah sebagai penulis atau untuk keperluan pendidikanlebih lanjut. Karena saya menemukan kasus-kasus menyedihkan di mana adapelajar-pelajar atau mahasiswa yang mendapat kesulitan untuk menuliskan buahpikirannya, sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk mengerjakantugas-tugasnya. Negara kita masih membutuhkan begitu banyak penulis agarbanyak bentuk bacaan yang dapat diterbitkan sehingga toko-toko buku danperpustakaan bisa menjadi salah satu pusat pembelajaran.Ada berbagai bentuk perpustakaan yang kita ketahui seperti;Perpustakaan Negara, Kantor Lembaga atau Instasi, Umum, Sekolah, Masyarakat,Pos Kelilling, dan Perpustakaan Desa, bahkan yang ada di dalam rumah kitasendiri. Namun sering kali masih kita dapatkan hal yang menyedihkan seperiperpustakaan yang lemari-lemarinya selalu terkunci, jumlah dan jenis bukuyang minim, penampilan perpustakaan, dan penempatan buku yang kurangmenarik, lokasi perpustakaan yang sulit dijangkau, sampai pada petugasperpustakaan yang berwajah angker dan kurang ditujang pengetahuan yang cukupsebagai pustakawan yang seharusnya menyadari tugasnya yang sangat pentingyaitu tidak hanya membantu pelanggan yang mencari buku yang dibutuhkan,namun juga mampu mempromosikan fasilitas-fasilitas yang ada di perpustakaansecara menarik serta berorientasi marketing sampai menciptakankegiatan-kegiatan kreatif yang dapat menggairahkan kehidupan perpustakaan.Sebagai langakah awal, mungkin sebaiknya dimulai dengan menciptakankebiasaan baca dan mendirikan sudut-sudut baca di dalam rumah kita sendiriyang mudah diakses oleh setiap anggota keluarga sehingga menjadi suatukebutuhan. Untuk di sekolah, dapat dilakukan sudut-sudut baca di setiapkelas, yang ditata sedemikian rupa sehingga murid-murid di sela-sela waktuistirahatnya dapat membaca di dalam kelas atau murid diwajibkan membaca satujudul buku setiap minggunya dan sudut baca ini dapat dilombakan kelas manayang mempunyai sudut baca terbaik. Penilaiannya mungkin dari penataannya,kualitas bacaan, dan banyaknya pembaca. Sumber buku bacaan dapat diperolehdari sumbangan setiap murid atau orang tua murid ataupun dari sumberlainnya.Dengan adanya sudut baca di dalam kelas setidaknya menjadisaluran bagi murid-murid yang mempunyai minat atau bakat dalam menulis ataugemar membaca. Dan dengan adanya sudut baca dapat mengajarkan siswa untukmerawat dan mencintai buku yang dimilikinya untuk disimpan dengan baik.Alangkah senangnya jika kelak anak-anak kita sudah dewasa mereka masihmemiliki buku-buku lama yang mungkin sudah tidak diterbitkan lagi.Anak-anak kecil pada umumnya suka membaca buku yang penuh gambar danwarna-warni. Hal ini adalah normal. Sedikit demi sedikit kita mengajarkananak membaca buku dengan lebih sedikit gambar dan tulisan berhuruf besar.Lalu tulisan diperbanyak, gambar hanya sebagai ilustrasi saja sampaiakhirnya anak mampu membaca buku tanpa gambar atau koran yang sebagian besartulisannya berhuruf kecil.Saya sendiri mulai mengajak anak saya yang masih di sekolahdasar untuk mulai menyukai koran sebagai sumber berita dengan memilihkanartikel-artikel flora dan fauna bergambar yang sangat disukainya. Atau untukanak saya yang remaja, pada awalnya dimulai dengan membaca artikel-artikelyang disukai anak muda, di mana sekarang dia sudah membaca koran secarakeseluruhan.Sedangkan untuk anak-anak yang datang ke Taman Bacaan, sayamencoba memotivasinya dengan menganjurkan untuk setiap buku pengetahuan yangdibaca, boleh membaca satu buku cerita kesukaannya. Tapi saat ini untungnyamulai banyak buku-buku pengetahuan yang memiliki bentuk-bentuk dangambar-gambar yang cukup menarik. Khususnya untuk Taman Bacaan Anak BebasBiaya di daerah padat penduduk berbasis ekonomi lemah yang kami dirikan,dimaksudkan untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mungkin mempunyaisudut-sudut baca di rumahnya ditinjau dari keterbatasan ruangan dan dananya.Untuk daerah yang sedang atau baru mengalami masalah-masalahseperti bencana alam, kemiskinan, kerusuhan dan sebagainya yang sulitfasilitas penunjang, seperti contohnya daerah Ambon, sebaiknya di beberapasekolah yang jaraknya tidak begitu jauh dapat didirikan satu perpustakaanmemadai dipergunakan bersama untuk wilayah tersebut yang dapat menunjangkegiatan sekolah. Sehingga sekolah-sekolah tersebut dapat menjadikanperpustakaan tersebut sebagai pusat kegiatan membaca, berkreasi maupunkegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan sekolah mereka.Kita juga dapat mengajak masyarakat setempat yang pedulilingkungan untuk berpartisipasi mendirikan Taman Bacaan Anak (TBA), sepertisebagai contoh di daerah Kalimantan Timur di desa Batuah di mana penduduknyamayoritas adalah petani lada. Taman Bacaan didirikan di atas rumah panggung.Sehingga ini diharapkan menjadi *pilot project* untuk pengembangan tamanbacaan di daerah lain.Untuk itu belajar dan ilmu pengetahuan, tidak hanya didapat dari sekolahformal tetapi juga dari lingkungan non formal. Pada perjalanannya ternyataTaman Bacaan Anak (TBA) tidak hanya sebagai penunjang sekolah-sekolah formalyang ada, tetapi juga sebagai alternatif bagi anak yang tidak mendapatkankesempatan untuk bersekolah di sekolah formal. Seperti di Desa Tangkil,Lido, Jawa Barat di bawah kaki gunung Gede, didirikan sebuah Taman BacaanAnak yang bernama "Amanah Corry" yang menjadi pusat belajar alternatif bagianak-anak di desa itu. Dikarenakan apabila mereka ke sekolah umumperjalanannya harus naik ojek seharga Rp. 5.000,- sekali jalan sedangkanpenghasilan ayahnya sebagai petani di sana hanya sebesar Rp. 12.000,- perhari.Dengan adanya Taman Bacaan Anak di sekitar rumahnya, anak-anakdapat belajar sambil bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Disitu juga diusahakan untuk menggali kreatifitas anak serta menanamkannilai-nilai akhlak dan moral sejak dini. Harapan kami anak-anak pemilik masadepan ini akan mempunyai hidup yang lebih bermakna jika mempunyai keindahanotak dan hati.Insya Allah.Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar