Di Jakarta berbagai hal dapat terjadi, mulai dari hal yang masuk akal, sampai hal-hal yang membalik-balikan logika. Hal inilah yang kemudian menjadi ciri manusia Jakarta atau yang dalam buku ini diistilahkan sebagai Homo Jakartensis.
Secara umum manusia Jakarta memang tidak beda dengan manusia yang hidup di kota-kota lain. Jika manusia Jakarta minum kopi, manusia di Wonosari juga tidak sedikit yang gemar ngopi. Jika manusia Jakarta mandi memakai sabun, toh manusia di Ciranjang pun mandi memakai sabun.
Namun yang membedakan manusia Jakarta dengan manusia di kota lain adalah cara dalam memaknai kegiatan fungsional tadi, ngopi misalnya. Bagi manusia Jakarta, minum kopi tidak sekadar menyeruput minuman berwarna hitam kecoklatan itu, tetapi di sana juga terdapat selera, cara memilih dan jugasoal citra
Salah satu contoh yang dikedepankan oleh Seno untuk menandai fenomena ini adalah hal makan. Makan bukan sekadar makan enak sesuai selera dan sekaligus mengenyangkan, tetapi juga memiliki makna simbolik. Makan di warung tenda yang menyajikan masakan Sunda, jelas berbeda dengan makan di restoran Dapur Sunda yang ber-AC dengan pelayan-pelayan yang ramah.
Akibatnya, kalau mau pamer, mengajak seluruh keluarga untuk pesta makan, siapkanlah uang sebanyak-banyaknya. Tetapi, kalau ingin makan dengan selera sendiri, meskipun masih memakai dasi, berpanas-panas di warung tenda pun jadi.
Kemudian soal mobil. Mobil ternyata tidak melulu alat transportasi, namun juga merupakan prestise, sebuah identitas bagi pemiliknya. Kehormatan pun diterjemahkan pada simbol mobil tersebut. Tidak heran jika bemper mobil tersebut lecet atau penyok karena terserempet, maka seakan-akan ikut lecet dan penyok pula harga diri dan kehormatan pemiliknya.
Padahal itulah fungsi bemper, yakni untuk menahan agar benturan dari mobil lain tidak langsung mengenai body mobil. Bukankah sebaiknya bemper yang penyok dari pada body mobil yang penyok.
Dari beberapa contoh peristiwa di atas tampak bagaimana citra, nilai dan gaya menjadi hal yang penting bagi manusia Jakarta. Uniknya proses ini terus menerus berputar selama manusia Jakarta itu ada. Dengan citra dan gaya inilah berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan mudah.
Dalam dunia bisnis misalnya, memperlihatan citra bonifide perusahaan menjadi elemen yang sangat penting. Tidak heran jika sebuah kantor dengan sengaja membeli lukisan berharga ratusan juta rupiah untuk dipasang di lobby kantor agar timbul kesan direktur perusahan tersebut adalah orang yang tahu banyak soal seni.
Di dalam buku ini Seno memang seolah ingin menelanjangi manusia-manusia Jakarta. Ia seperti ingin menunjukkan di balik penampilan manusia Jakarta yang bekesan megah, mewah, dan gemerlap justru terdapat kekacauan, keanehan, dan disoreintasi yang kronis.
Kumpulan kolom ini adalah mengenai absurditas manusia Jakarta. Apakah absurditas ini adalah sesuatu yang salah atau keliru? Seno tidak secara terang-terangan mengatakannya, namun paling tidak ia mengajak pembaca untuk melihat sebuah gejala sosiologis yang terjadi pada manusia Jakarta.***
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Januari 2010
Senin, 11 Mei 2009

Pendidikan Guru dari Masa ke Masa
Riwayat pendidikan bagi guru di tanah Indonesia terjadi secara evolusioner. Hanya saja perubahan-perubahan tersebut belum menemukan satu visi yang konkret. Perubahan-perubahan nama, sistem dan segala tetek bengek-nya seperti sebuah perayaan atas zaman. Sementara itu pendidikan guru di Indonesia seperti kehilangan daya magisnya sebagai pelahir guru-guru yang benar-benar paham pendidikan di Indonesia. Sepertinya calon guru hanya untuk mengincar status sosial, jabatan, dan lowongan tanpa ada dedikasi untuk benar-benar menjadi guru yang baik, yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan tetapik juga memotivasi, memerdekakan, memanusiakan, serta membuat kreatif anak didiknya. Berawal dari Eropa. Masyarakat kuno dan pertengahan Eropa menganggap bahwa institusi pendidikan kurang memberikan petunjuk prinsip praktik mengajar. Pendek kata, seseorang yang ingin menjadi pengajar hanya diminta untuk mendemonstrasikan pengetahuan dari subjek mata pelajaran yang ingin mereka ajarkan. Selama zaman Renaisance Eropa beberapa guru seperti Vittorino de Feltre di Italia, Johannes Sturm di Jerman dan Jhon Colet di Inggris mendapatkan pengakuan luas untuk pembelajaran dan kemampuan mengajar mereka, tetapi pelatihan guru sedikit mendapatkan perhatian. Hal ini tidak berlangsung hingga penerapan prinsip demokrasi selam abad 17 hingga 18dengan masukan mereka yaitu bahwa perkembangan ekonomi, sosial dan politik negara bangsa dapat diperoleh melalui pendidikan masyarakat individual, yang ukuran-ukurannya diambil dari pendirian insitusi-institusi yang memberikan pelatihan kepada pengajar.Institusi pendidikan yang pertama kali diketahui menawarkan program yang sistematik pendidikan pengajar adalah the Institute of the Brothers of the Christian Schools yang didirikan pada 1685 di Reims, Perancis oleh pendeta John Baptist de la Salle. Pada abad 18 institusi serupa didirikan di Perancis dan Jerman. Pada 1794 sekolah yang didukung oleh pemerintah Perancis tersebut adalah sekolah pertama yang mengikuti prinsip filsuf Jean Jacques Rousseau. Roesseau mempercayai bahwa pendidik seharusnya berkonsentrasi terutama dengan perkembangan mental dan fisik pelajar dan materi belajar harus berada pada posisi kedua setelahnya. Prinsip ini kemudian diadopsi oleh sekolah pelatihan guru di seluruh dunia dan menjadi doktrin dasar seluruh teori pendidikan. Dari banyak pengajar yang mengaplikasikan dan mengembangkan teori kependidikan Rosseau, yang paling penting adalah Johann Heinrich Pestalozzi yaitu pembaharu pendidikan Swiss pada akhir abad ke 18.Kemajuan penting dalam teori dan metode pelatihan guru dibuat di Prussia awal abad 19 dengan menerapkan pandangan pendidik Johann Fiedrich Herbart. Dia menekankan studi tentang proses psikologi pembelajaran sebagai alat untuk merencanakan program pendidikan berdasarkan bakat, kecerdasan, dan ketertarikan siswa. Kesuksesan metode Herbart membuat banyak orang mengadopsinya dalam sistem kursus guru di pelbagai negara.Pengaruh pendidikan Eropa ini berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan di Nusantara. VOC, sebagai kongsi dagang Belanda yang merambah wilayah Nusantara merupakan pembawa pengaruh pendidikan ala Eropa tersebut. Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun (1864) dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah serupa diselenggarakan oleh zending di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu.Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertamama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang.[1]Setelah pendirian Sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukitinngi (Fort de Kock) pada 1856, Tanah Baru, tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874, Tondano pada 1873, Ambon pada 1874, Probolinggo pada 1875, Banjarmasin pada 1875, Makassar pada 1876, dan Padang Sidempuan pada 1879. jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895). Penutupan sekolah ini akibat dari malaise.Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 18885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar. Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik didirikan kursus-kursus di Batavia, Semarang, dan Surabaya (1890).[2]Pada abad ke-20, sejalan dengan perkembangan dan kemajuan di bidang pendidikan, pendidikan guru mengalami perkembangan sehingga terdapat tiga jenis sekolah guru, yait: 1). Normaalschool adalah sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa daerah dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun; 2) Kweekschool adalah sekolah guru dengan lama belajar empat tahun dan menerima lulusan sekolah dsara berbahasa Belanda. 3). Hollandsch Inlandsch Kweekschool (HIK) yaitu sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa Belanda dengan masa pendidikan enam tahun dan bertujuan menghasilkan guru HIS/HCS.[3]Pendidikan Guru oleh SwastaSelain juga dari pemerintah Kolonial para pribumi juga mendirikan sekolah. Seperti dapat diketahui dari Organisasi Muhammadiyah yang didiririkan K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini menitikberatkan pula dalam bidang pendidikan dan pengajaran K.H. Ahmad Dahlan mengadakan pembaruan dalam mengelola pendidikan sekolah-sekolah yang dibangunnya. Sekolah-sekolah itu disesuikan dengan kebutuhan masyarakat, dan disesuaikan pula dengan sekolah-sekolah yang dibangun Belanda seperti HIS, Kweekscool, AMS, dan MULO.[4]Gerakan serupa mucul pada 7 Juni 1924. Taman Siswa cabang Mataram (Yogyakarta) membuka bagian MULO-Kweekschool (Taman Guru) dengan lama belajar empat tahun sesudah tamat Taman Muda (SD) atau setingkat. Maksud dibukanya bagian ini adalah untuk menghasilkan guru bagi kepentingan Taman Siswa sendiri. Pelaksanaan Taman Guru pada tahun ketiga dilakukan terpisah, yaitu bagian Taman Dewasa demham lama belajar tiga tahun setelah tamat Taman Muda (SD) dan bagaian Taman Guru yang lama belajarnya satu tahun setamat Taman Dewasa.[5]Pesatnya perkembangan dan kemajuan Perguruan Taman Siswa nampaknya telah mengancam kepentingan Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah kolonial mencegah meliuasnya pengaruh Taman Siswa di kalangan Masyarakat demham mengeluarkan berbagai aturan dan tindakan. Pada tahun itu juga, Taman Siswa dikenakan pajak rumah tangga. Ki Hadjar Dewantara yang dengan keluarganya hanya menempati dua kamr di tengah-tengah bangunan Taman Siswa, tentu saja menolak kewajiban membayar pajak tersebut.Pada 1932, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Ordonansi sekolah Liar. Taman Siswa masuk jerat ini. Ki Hadjar protes kepad pemerintah. Partai politik turut mendukung protes tersebut dan memperjuangkanya di Volksraad. Begitu juga dengan surat-surat kabar saat itu. Akhirnya pada 1935, setelah dua tahun mengalami proses alot, ordonansi sekolah liar dihapuskan.[6]
Riwayat pendidikan bagi guru di tanah Indonesia terjadi secara evolusioner. Hanya saja perubahan-perubahan tersebut belum menemukan satu visi yang konkret. Perubahan-perubahan nama, sistem dan segala tetek bengek-nya seperti sebuah perayaan atas zaman. Sementara itu pendidikan guru di Indonesia seperti kehilangan daya magisnya sebagai pelahir guru-guru yang benar-benar paham pendidikan di Indonesia. Sepertinya calon guru hanya untuk mengincar status sosial, jabatan, dan lowongan tanpa ada dedikasi untuk benar-benar menjadi guru yang baik, yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan tetapik juga memotivasi, memerdekakan, memanusiakan, serta membuat kreatif anak didiknya. Berawal dari Eropa. Masyarakat kuno dan pertengahan Eropa menganggap bahwa institusi pendidikan kurang memberikan petunjuk prinsip praktik mengajar. Pendek kata, seseorang yang ingin menjadi pengajar hanya diminta untuk mendemonstrasikan pengetahuan dari subjek mata pelajaran yang ingin mereka ajarkan. Selama zaman Renaisance Eropa beberapa guru seperti Vittorino de Feltre di Italia, Johannes Sturm di Jerman dan Jhon Colet di Inggris mendapatkan pengakuan luas untuk pembelajaran dan kemampuan mengajar mereka, tetapi pelatihan guru sedikit mendapatkan perhatian. Hal ini tidak berlangsung hingga penerapan prinsip demokrasi selam abad 17 hingga 18dengan masukan mereka yaitu bahwa perkembangan ekonomi, sosial dan politik negara bangsa dapat diperoleh melalui pendidikan masyarakat individual, yang ukuran-ukurannya diambil dari pendirian insitusi-institusi yang memberikan pelatihan kepada pengajar.Institusi pendidikan yang pertama kali diketahui menawarkan program yang sistematik pendidikan pengajar adalah the Institute of the Brothers of the Christian Schools yang didirikan pada 1685 di Reims, Perancis oleh pendeta John Baptist de la Salle. Pada abad 18 institusi serupa didirikan di Perancis dan Jerman. Pada 1794 sekolah yang didukung oleh pemerintah Perancis tersebut adalah sekolah pertama yang mengikuti prinsip filsuf Jean Jacques Rousseau. Roesseau mempercayai bahwa pendidik seharusnya berkonsentrasi terutama dengan perkembangan mental dan fisik pelajar dan materi belajar harus berada pada posisi kedua setelahnya. Prinsip ini kemudian diadopsi oleh sekolah pelatihan guru di seluruh dunia dan menjadi doktrin dasar seluruh teori pendidikan. Dari banyak pengajar yang mengaplikasikan dan mengembangkan teori kependidikan Rosseau, yang paling penting adalah Johann Heinrich Pestalozzi yaitu pembaharu pendidikan Swiss pada akhir abad ke 18.Kemajuan penting dalam teori dan metode pelatihan guru dibuat di Prussia awal abad 19 dengan menerapkan pandangan pendidik Johann Fiedrich Herbart. Dia menekankan studi tentang proses psikologi pembelajaran sebagai alat untuk merencanakan program pendidikan berdasarkan bakat, kecerdasan, dan ketertarikan siswa. Kesuksesan metode Herbart membuat banyak orang mengadopsinya dalam sistem kursus guru di pelbagai negara.Pengaruh pendidikan Eropa ini berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan di Nusantara. VOC, sebagai kongsi dagang Belanda yang merambah wilayah Nusantara merupakan pembawa pengaruh pendidikan ala Eropa tersebut. Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun (1864) dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah serupa diselenggarakan oleh zending di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu.Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertamama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang.[1]Setelah pendirian Sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukitinngi (Fort de Kock) pada 1856, Tanah Baru, tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874, Tondano pada 1873, Ambon pada 1874, Probolinggo pada 1875, Banjarmasin pada 1875, Makassar pada 1876, dan Padang Sidempuan pada 1879. jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895). Penutupan sekolah ini akibat dari malaise.Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 18885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar. Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik didirikan kursus-kursus di Batavia, Semarang, dan Surabaya (1890).[2]Pada abad ke-20, sejalan dengan perkembangan dan kemajuan di bidang pendidikan, pendidikan guru mengalami perkembangan sehingga terdapat tiga jenis sekolah guru, yait: 1). Normaalschool adalah sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa daerah dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun; 2) Kweekschool adalah sekolah guru dengan lama belajar empat tahun dan menerima lulusan sekolah dsara berbahasa Belanda. 3). Hollandsch Inlandsch Kweekschool (HIK) yaitu sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa Belanda dengan masa pendidikan enam tahun dan bertujuan menghasilkan guru HIS/HCS.[3]Pendidikan Guru oleh SwastaSelain juga dari pemerintah Kolonial para pribumi juga mendirikan sekolah. Seperti dapat diketahui dari Organisasi Muhammadiyah yang didiririkan K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini menitikberatkan pula dalam bidang pendidikan dan pengajaran K.H. Ahmad Dahlan mengadakan pembaruan dalam mengelola pendidikan sekolah-sekolah yang dibangunnya. Sekolah-sekolah itu disesuikan dengan kebutuhan masyarakat, dan disesuaikan pula dengan sekolah-sekolah yang dibangun Belanda seperti HIS, Kweekscool, AMS, dan MULO.[4]Gerakan serupa mucul pada 7 Juni 1924. Taman Siswa cabang Mataram (Yogyakarta) membuka bagian MULO-Kweekschool (Taman Guru) dengan lama belajar empat tahun sesudah tamat Taman Muda (SD) atau setingkat. Maksud dibukanya bagian ini adalah untuk menghasilkan guru bagi kepentingan Taman Siswa sendiri. Pelaksanaan Taman Guru pada tahun ketiga dilakukan terpisah, yaitu bagian Taman Dewasa demham lama belajar tiga tahun setelah tamat Taman Muda (SD) dan bagaian Taman Guru yang lama belajarnya satu tahun setamat Taman Dewasa.[5]Pesatnya perkembangan dan kemajuan Perguruan Taman Siswa nampaknya telah mengancam kepentingan Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah kolonial mencegah meliuasnya pengaruh Taman Siswa di kalangan Masyarakat demham mengeluarkan berbagai aturan dan tindakan. Pada tahun itu juga, Taman Siswa dikenakan pajak rumah tangga. Ki Hadjar Dewantara yang dengan keluarganya hanya menempati dua kamr di tengah-tengah bangunan Taman Siswa, tentu saja menolak kewajiban membayar pajak tersebut.Pada 1932, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Ordonansi sekolah Liar. Taman Siswa masuk jerat ini. Ki Hadjar protes kepad pemerintah. Partai politik turut mendukung protes tersebut dan memperjuangkanya di Volksraad. Begitu juga dengan surat-surat kabar saat itu. Akhirnya pada 1935, setelah dua tahun mengalami proses alot, ordonansi sekolah liar dihapuskan.[6]
Masa Jepang
Ketika Jepang berkuasa di Indonesia. Pendidikan diarahkan untuk kepentingan praktis bagai Jepang. Untuk mendidik guru terdapat tiga jenis sekolah guru, yaitu 1) Sekolah Guru Dua Tahun Syoto Sihan Gakko) 2) sekolah guru empat tahun (Guto Sihan Gakko), 3) Sekolah guru enam tahun (Koto Sihan Gakko).[7] Namun sebenarnya hanya sekolah guru pemerintah yang dibuka kembali, sekolah guru swasta tetap ditutup.[8]Pada zaman Jepang pendidikan merosot dengan drastis dibandingkan dengan keadaan pada zaman Belanda. Sekolah rakyat menurun jumlahnya dari 21.500 menjadi 13.500, sekolah menengah turun dari 850 menjadi 20. demikian pula dengan jumlah murid, murid sekolah rakyat menurun 30%, murid sekolah menengah merosot sebesar 90%. Jumlah guru sekolah rakyat menurun 35% dan guru sekolah menengah merosot 95%.[9]
Orde Lama- Masa Orde Baru
Jepang hengkang, Indonesia merdeka. Dasar sistem pendidikan pun mulai digagas. Maka pada awal republik berdiri sistem pendidikan meliputi pendidikan rendah, pendidikan guru, pendidikan umum, pendidikan kejuruan, dan pendidikan tinggi. Pendidikan guru adalah sekolah yang diadakan untuk menghasilkan guru. Jenis pendidikan guru adalah sekolah Guru B (SGB), Sekolah Guru C (SGC) dan Sekolah Guru A (SGA). Lama pendidikan SGB adalah empat tahun dan dimaksudkan untuk mendidik guru SR. murid yang diterima lulusan SR yang lulus dalam ujian masuk ke sekolah lanjutan. SGA menerima lulusan SMP.Sehubungan dengan kebutuhan guru SR yang mendesak, dibuka sekolah guru yang dalam waktu singkat dapat menghasilkan guru. Untuk itu didirikan sekolah guru dua tahun setelah SR dam disebut SGC. Namun, keberadan SGC dirasakan kurang bermanfaat sehingga SGC ditutup dan sebagaian dijadikan SGB. Oleh karena adanya anggapan bahwa sekolah guru empat tahun belum dapat menjamin pengetrahuan dan kemampuan yang cukup sebagai guru, amka dibuka SGA yang memberi pendidikan tiga tahun sesudah SMP dan juga dapat menerima murid dari lulusan tingakt III SGB.[10] Selain itu ada sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) yang lama belajarnya empat tahun setelah SMP atau SKP.Sejalan dengan pengadaan guru untuk tingkat pendidikan rendag, Kementerian pendidikan, pengajaran dan Kebudayaan juga mengadakan usaha penambahan guru untuk tingkat pendndikan menegah. Pendidikan guru untuk SLTP dan SLTA dilakukan dengan melalui kursus-kursus yang lamanya dua tahun. Kursus-kursus yang diadakan yaitu kursus Bahasa jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Bumi, dan Ilmu Pasti. Di antara kursus-kursus tersebut, hanya kurus Ilmu Pasti yang belum menghasilkan guru karena pecahnya aksi militer Belanda II 1948.[11]Oleh karena itu presiden mengeluarkan Kepres No 1 Tahun 1963, tertanggal 3 Januari 1963 yang memutuskan untuk menggabungkan FKIP dasn IPG menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Sebagai pelaksanaan Keppres tersebut keluar SK Menteri Pendidikan PTIP No. 55 tahun 1963 tertanggal 22 Mei 1963 yang menetapkan berdirinya IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. Tujuannnya adalah untuk memenuhi kualitas dan kuantitas guru di Indonesia.[12]Sepeninggal Orde Lama, Orde baru di bawah pemerintahan Soeharto mulai menata pendidikan guru di Indonesia. Ada dua langkah dasar yang ditempuh pemerintah Orba dalam meningkatkan kualitas guru. Langkah tersebut antara lain; 1) menyeragamkan jenjang pendidikan dari semua jenis pendidikan guru pra-jabatan, dari sistem yang merupakan gabungan antara jenjang pendidikan menengah dan jenjang perguruan tinggi menjadi sistem yang bersifat strata tunggal, yaitu semua pendidikan guru guru pra-jabatan diselenggarakan pada jenjang perguruan tinggi. 2) Menentukan semua pendidikan guru pra-jabatan dikelola oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi.[13] Dengan kebijakan tersebut maka pendidikan Sekolah Guru B, Sekolah Guru A, dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ditiadakan. Pelbagai pelatihan dan penataran untuk meningkatkan kualitas guru juga dilakukan pemerintah Orba. Proyek peningkatan kualitas guru tersebut dilaksanakan di IKIP, Fakultas Keguruan, BPG, dan SGPLB.[14]Dua tahun sebelum reformasi, 1996, terjadi perubahan signifikan dalam tubuh pendidikan keguruan di Indonesia. Wacana untuk mengubah IKIP menjadi universitas mulai bergulir. Direktorat Pendidikan Tinggi akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan No 1449/D/T/1996 tertanggal 20 Juni 1996 bahwa IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang diubah menjadi universitas. Hal ini menyebabkan IKKIP-IKIP tersebut membukan jurusan dan prodi non-kependidikan sebagai konsekuesi atas perubahan ke arah universitas. Maka pada 1998/1999 di saat reformasi bergulir IKIP-IKIP tersebut berubah menjadi universitas, termasuk IKIP Yogyakarta yang berubah menjadi Universitas Negeri Yogyakarta pada 4 Agustus 1999.
Sumber Pustaka:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979.
Pendidikan dari Jaman ke Jaman. Jakarta: BP3K.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995.
Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Depdikbud.H. Najamudin. 2005.
Perjalanan Pendidikan di Tanah Air. Jakarta: PT. Rineka CiptaMochtar Buchori, 2007.
Evolusi Pendidikan di Indonesia, Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998. Yogyakarta: Insist Press.Sismono La Ode Dkk. 2006.
Biografi Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. Suyanto, Ph.D. Di Belantara Pendidikan Bermoral. Yogyakarta: UNY Press.
[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Depdikbud, hlm. 20-21.
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid, hlm. 20-21.
[3] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid, hlm. 30.
[4] H. Najamudin. 2005. Perjalanan Pendidikan di Tanah Air. Jakarta: PT. Rineka Cipta., hlm. 61.
[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Op.cit, hlm. 42.
[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ibid., hlm. 43.
[7] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid., hlm. 38.
[8] Mochtar Buchori, 2007. Evolusi Pendidikan di Indonesia, Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998. Yogyakarta: Insist Press., hlm. 25.
[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Op.cit, hlm. 38.
[10] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ibid, hlm. 77.
[11] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid,, hlm. 90.
[12] Sismono La Ode Dkk. 2006. Biografi Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. Suyanto, Ph.D. Di Belantara Pendidikan Bermoral. Yogyakarta: UNY Press., hlm. 281.
[13] Mochtar Buchori, op.cit. hlm. 136.
[14] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Pendidikan dari Jaman ke Jaman. Jakarta: BP3k. hlm. 204.
Romantika Kudeta yang Gagal

Sekali peristiwa di Bandung, sehari sebelum kudeta, pagi 22 Januari 1950 Westerling bercakap-cakap sambil minum-minum di Hotel Preanger dengan kenalannya. Malam hari, ia bersama istrinya makan malam di hotel itu juga. Hari itu Paris van Java tenang, tak seorang pun menduga bakal terjadi prahara.Pada pukul 21.00, Westerling mengendarai mobil menuju Padalarang. Di sana, ia menunggu kiriman senjata yang akan dibagikan kepada anak buahnya. Sesuai rencana, pagi hari 23 Januari 1950, ia akan menyerang dua kota penting di Jawa: Bandung dan Jakarta. Strategi ini disesuaikan dengan geopolitik Bandung. Bandung adalah penyangga Jakarta, sekaligus ibukota Negara Pasundan yang dipimpin Kartalegawa. Sedangkan Jakarta adalah jantung kekuasaan Indonesia.Subuh 23 Januari 1950, 800 Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)— 300 orang diantaranya merupakan tentara Belanda—bergerak menuju kota Bandung. Mereka mengendarai truk, sepeda motor, jeep dan ada yang jalan kaki. Sepanjang jalan, mereka melucuti polisi negara di Pos Cimindi, Cibeureum, dan Pabrik Mekaf. Sementara itu, 2 peleton APRA dengan mengendari truk menuju Jakarta.Hari itu juga, jalan Bandung-Cimahi diblokir. Pos-pos polisi di sepanjang jalan menuju Bandung dilumpuhkan. Ketika sampai kota Bandung, masyarakat masih acuh pada tentara Belanda. Pemandangan itu biasa mereka saksikan. Tapi tiba-tiba mereka terkejut. Tentara Belanda menembak membabi buta di jalan Braga. Penduduk ketakutan, jalanan, toko-toko, dan rumah-rumah di Bandung menjadi sepi.Di depan apotek Ratkamp di Jalan Braga, sebuah sedan ditahan dan penumpangnya di suruh turun. Penumpang tersebut anggota TNI, dia disuruh berdiri dan langsung ditembak. Sedangkan penduduk yang tertangkap dinaikkan ke truk. Di depan Hotel Pranger 3 anggota TNI ditembak. Di Jalan Merdeka, 10 anggota TNI tewas. Di perempatan Suniaraja-Braga, 7 anggota TNI mengalami nasib serupa. Di Kantor Staf Kwartier Divisi Siliwangi Oude Hospitelweg, 15 anggota TNI diserang tiba-tiba, beberapa tewas, sisanya lari. Akibat serangan di Kota Bandung itu, 60-79 anggota TNI dan 6 sipil tewas. (hlm. 81)Kudeta tersebut akhirnya gagal. Senjata yang ditunggu Westerling tak datang. Tentara APRA di Jakarta yang siap menyerbu tak memegang senjata. Sedangkan Jendral Spoor, Pemimpin tertinggi tentara Belanda di Indonesia yang sebelumnya menyetujui kudeta tiba-tiba mengurungkan niatnya. Demikian juga dengan Sultan Hamid II yang sedianya membantu ternyata juga urung. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan masyarakat Jawa Barat yang berafiliasi padanya pun tak banyak memberi dukungan. Alhasil kudeta yang disiapkan Westerling berantakan.Padahal sebelumnya, ia telah atur rencana. Ia himpun kekuatan dengan memanfaatkan wacana mesianistik yang berhasil menghipnotis rakyat Jawa Barat. Di perdesaan Jawa Barat ia berhasil mendirikan organisasi yang berafiliasi kepada gerakan Ratu Adil. Bahkan ia berhasil menjalin kerjasama bawah tanah dengan Pemimpin DI/TII, Kartosuwiryo, pengusaha Indo-Belanda dan Cina, Sultan Hamid II, serta Walinegara Pasundan, Kartalegawa.Mengetahui kudeta ini, Perdana Menteri RIS, Mohammad Hatta berang. Hatta menuding Belanda melanggar pengakuan kedaulatan yang ditandatangani 27 Desember 1949. Untuk itu, Hatta segera memerintahkan menangkap dan menumpas gerakan Westerling. Demikian pula dengan Menteri Pertahanan RIS, Sultan Hamengkubuwono IX, yang menjadi target pembunuhan Westerling segera menginstruksikan untuk melumpuhkan APRA. Mengetahui kudetanya gagal, Westerling lari ke Singapura. Tapi sesampainya di negeri itu, ia ditangkap kepolisian Singapura.Pemerintahan RIS meminta Westerling diekstradisi ke Indonesia dan akan diadili sesuai peradilan Indonesia tapi pemerintah Belanda menolak. Westerling, yang menewaskan kurang lebih 40 ribu nyawa penduduk Sulawesi Selatan dan otak kudeta itu, oleh pengadilan Belanda divonis dua tahun penjara. Ia juga bebas dari dakwaan kejahatan perang oleh Mahkamah Internasional di den Haag, Belanda, sampai ia mati pada 26 November 1987.Prahara di Paris van Java yang dilakukan Raymond Westerling meninggalkan luka dalam sejarah Indonesia. Indonesia baru saja mendapat pengakuan de jure dari Belanda. Indonesia juga dihadapkan pada bentuk negara federasi berupa Republik Indonesia Serikat. Bentuk negara seperti ini dinilai para founding fathers sebagai strategi Belanda untuk memecah belah bangsa. Pendek kata, di saat Indonesia tertatih-tatih mestabilitasikan politik dan ekonomi, Westerling dan bekas tentara Belanda malah menikam dari belakang.Jejak kelam Westerling ini sepantasnya dibaca masyarakat Jawa Barat dan Indonesia. Dengan membaca buku ini pula pembaca akan terangsang untuk mengetahui lebih lanjut prahara di Paris Van Java. Apalagi Petrik Matanasi dalam karyanya ini sama sekali belum menyingkap oral history dari para pelaku dan saksi yang masih hidujp. Sumber dari oral history ini penting, agar rekonstruksi sejarah prahara di Paris van Java pada 23 januari 1950 semakin lengkap.Judul: Westerling,Kudeta yang GagalPengarang: Petrik MatanasiPenerbit: Media Presindo, JogjakartaCetakan: Juli 2007Tebal: 126 hlm.
Merawat Peradaban Islam di Indonesia

Judul : Sejarah Peradaban Islam di Indonesia
Editor : Mundzirin Yusuf, dkk.
Penerbit : Penerbit Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I, Juni 2006Tebal : 305 hlm
Bicara sejarah peradaban sama halnya bicara warisan pusaka. Warisan itu dirawat dan dijaga untuk tetap “mengabadi”. Andai warisan pusaka itu tak dirawat maka orang yang diamanahi menjaganya akan kualat. Karena warisan itulah yang menjadikan pewaris akan menyatukan dirinya atau bahkan sebaliknya mengklaim sebagai yang paling berhak dan layak mendapatkannya. Dalam konteks sejarah peradaban, Islam adalah warisan “pusaka”. Satu nilai yang agung dan mulia dari masa lalu yang akan diabadikan dan tak dibiarkan retak. Islam akan terus dijaga dan dirawat oleh pewarisnya kini dan bahkan selamanya. NU, Muhamdiyah, PKS, PBB, PPP, FPI dan JIL dan elemen-elemen lain adalah pewaris yang merasa memiliki “pusaka” itu.Apa yang nampak dari usaha-usaha “merawat” Islam itu nampak nyata kini. Gerakan-gerakan Islam kontemporer ala FPI dan JIL, atau partai Islam ala PKS, PBB dan PBR tak terlepas dari gerakan-gerakan Islam sebelumnya yang sempat dibungkam Orba dan kini tampak lebih tegas. Di masa Orba usaha merawat Islam selalu dihalangi dengan cara-cara sadis dan radikal dengan jalan memberikan stereotip: makar!. Tiap gerakan Islam yang dinilai membahayakan langsung dicap makar, disikat bedil.Usaha perawatan itu harus dibayar mahal oleh gerakan maupun partai-partai Islam. Masa Orba adalah masa ketika gerakan dan partai Islam diwadahi dengan didirikannya PPP pada 5 Januari 1973. Upaya itu dilakukan Soeharto untuk pembenaran kebijakannya. Menurut Orba, belum berhasilnya PSII pada pemilu 1973 membuktikan bahwa yang mampu menyatukan umat Islam adalah organ bentukan pemerintah. Sepintas nampak yang dilakukan Orba sangat moderat terhadap kalangan Islam. Alih-alih disatukan justru melemahkan gerakan-gerakan dan partai Islam yang getol merawat Islam di Nusantara.PSII yang lahir atas inisiatif kalangan Islam sendiri melakukan hal serupa, setelah Masyumi dibubarkan Soekarno pada 1960. Dengan radikalis Soekarno memenjarakan Moh. Roem dan Hasyim Azhari. Orla tak mau Masyumi yang didirikan oleh tokoh-tokoh Islam dari pelbagai elemen menjadi satu kekuatan besar menandingi golongan nasionalis dan komunis yang sejalan dengan idenya. Keinginan Soekarno menjadikan PNI sebagai partai tunggal dan ide NASAKOM-nya mendapat reaksi dari kalangan Islam.Dari situ sebenarnya nampak bahwa setiap usaha merawat Islam selalu mendapat halangan. Dari dalam Islam Nusantara sendiri ada semacam persinggugan di antara elemen-elemen yang ada. Persinggungan itu sudah ada semenjak Sunan Kudus dan Kalijaga bersinggungan pendapat dalam perkara Sutawijaya dan Aria Penangsang 5 abad lampau. Perkaranya Sutawijata dinilai Sunan Kudus kurang bisa merawat Islam dibanding Aria Penangsang kala itu.Meskipun ada persinggungan di Jaman kejayaan Islam Nusantara, usaha merawat Islam seperti tak mendapat halangan. Islam berhasil masuk dalam birokrasi dan sistem pemerintahan. Syekh Siti Jenar adalah contoh lain, ketika “usaha” merawat Islam direpresentasikan dengan cara berbeda. Jadilah dia diadili oleh rekan-rekannya sendiri yang getol merawat Islam asli dari tanah Arab.Usaha perawatan itu terus berubah dan diregenerasi. Pendidikan Islam yang akan melahirkan dari pewaris-pewaris Islam. Pesantren, sekolah Islam formal, dan univeristas-universitas Islam baik di dalam dan luar negeri yang akan meregenerasi dan mencari format baru untuk merawat Islam. Selama pendidikan Islam itu ada, selama itu pula Islam akan terus terjaga. Mereka para lulusan pendidikan Islam yang akan melahirkan gagasan tentang bagaimana Islam akan tetap terus mengabadi di Nusantara ini. Apa yang tertulis di atas, sebenarnya yang nampak menarik dari buku Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Satu buku yang ditulis dosen Sejarah Kebudayaan Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dari buku ini pula terlihat bahwa sejarah peradaban Islam ditulis cukup obyektifif. Siapapun pembacanya, kalangan non-Islam sekalipun akan dengan gamblang mengerti sejarah perdaban Islam di bumi merah putih ini. Karena keberhasilan mendekati obyektif itu pula, buku ini menjadi referensi yang selayaknya menambah deret buku-buku favorit di rak buku Anda.
Editor : Mundzirin Yusuf, dkk.
Penerbit : Penerbit Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I, Juni 2006Tebal : 305 hlm
Bicara sejarah peradaban sama halnya bicara warisan pusaka. Warisan itu dirawat dan dijaga untuk tetap “mengabadi”. Andai warisan pusaka itu tak dirawat maka orang yang diamanahi menjaganya akan kualat. Karena warisan itulah yang menjadikan pewaris akan menyatukan dirinya atau bahkan sebaliknya mengklaim sebagai yang paling berhak dan layak mendapatkannya. Dalam konteks sejarah peradaban, Islam adalah warisan “pusaka”. Satu nilai yang agung dan mulia dari masa lalu yang akan diabadikan dan tak dibiarkan retak. Islam akan terus dijaga dan dirawat oleh pewarisnya kini dan bahkan selamanya. NU, Muhamdiyah, PKS, PBB, PPP, FPI dan JIL dan elemen-elemen lain adalah pewaris yang merasa memiliki “pusaka” itu.Apa yang nampak dari usaha-usaha “merawat” Islam itu nampak nyata kini. Gerakan-gerakan Islam kontemporer ala FPI dan JIL, atau partai Islam ala PKS, PBB dan PBR tak terlepas dari gerakan-gerakan Islam sebelumnya yang sempat dibungkam Orba dan kini tampak lebih tegas. Di masa Orba usaha merawat Islam selalu dihalangi dengan cara-cara sadis dan radikal dengan jalan memberikan stereotip: makar!. Tiap gerakan Islam yang dinilai membahayakan langsung dicap makar, disikat bedil.Usaha perawatan itu harus dibayar mahal oleh gerakan maupun partai-partai Islam. Masa Orba adalah masa ketika gerakan dan partai Islam diwadahi dengan didirikannya PPP pada 5 Januari 1973. Upaya itu dilakukan Soeharto untuk pembenaran kebijakannya. Menurut Orba, belum berhasilnya PSII pada pemilu 1973 membuktikan bahwa yang mampu menyatukan umat Islam adalah organ bentukan pemerintah. Sepintas nampak yang dilakukan Orba sangat moderat terhadap kalangan Islam. Alih-alih disatukan justru melemahkan gerakan-gerakan dan partai Islam yang getol merawat Islam di Nusantara.PSII yang lahir atas inisiatif kalangan Islam sendiri melakukan hal serupa, setelah Masyumi dibubarkan Soekarno pada 1960. Dengan radikalis Soekarno memenjarakan Moh. Roem dan Hasyim Azhari. Orla tak mau Masyumi yang didirikan oleh tokoh-tokoh Islam dari pelbagai elemen menjadi satu kekuatan besar menandingi golongan nasionalis dan komunis yang sejalan dengan idenya. Keinginan Soekarno menjadikan PNI sebagai partai tunggal dan ide NASAKOM-nya mendapat reaksi dari kalangan Islam.Dari situ sebenarnya nampak bahwa setiap usaha merawat Islam selalu mendapat halangan. Dari dalam Islam Nusantara sendiri ada semacam persinggugan di antara elemen-elemen yang ada. Persinggungan itu sudah ada semenjak Sunan Kudus dan Kalijaga bersinggungan pendapat dalam perkara Sutawijaya dan Aria Penangsang 5 abad lampau. Perkaranya Sutawijata dinilai Sunan Kudus kurang bisa merawat Islam dibanding Aria Penangsang kala itu.Meskipun ada persinggungan di Jaman kejayaan Islam Nusantara, usaha merawat Islam seperti tak mendapat halangan. Islam berhasil masuk dalam birokrasi dan sistem pemerintahan. Syekh Siti Jenar adalah contoh lain, ketika “usaha” merawat Islam direpresentasikan dengan cara berbeda. Jadilah dia diadili oleh rekan-rekannya sendiri yang getol merawat Islam asli dari tanah Arab.Usaha perawatan itu terus berubah dan diregenerasi. Pendidikan Islam yang akan melahirkan dari pewaris-pewaris Islam. Pesantren, sekolah Islam formal, dan univeristas-universitas Islam baik di dalam dan luar negeri yang akan meregenerasi dan mencari format baru untuk merawat Islam. Selama pendidikan Islam itu ada, selama itu pula Islam akan terus terjaga. Mereka para lulusan pendidikan Islam yang akan melahirkan gagasan tentang bagaimana Islam akan tetap terus mengabadi di Nusantara ini. Apa yang tertulis di atas, sebenarnya yang nampak menarik dari buku Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Satu buku yang ditulis dosen Sejarah Kebudayaan Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dari buku ini pula terlihat bahwa sejarah peradaban Islam ditulis cukup obyektifif. Siapapun pembacanya, kalangan non-Islam sekalipun akan dengan gamblang mengerti sejarah perdaban Islam di bumi merah putih ini. Karena keberhasilan mendekati obyektif itu pula, buku ini menjadi referensi yang selayaknya menambah deret buku-buku favorit di rak buku Anda.
Rabu, 11 Maret 2009
HARI PARTAI

Maklumat itu berbunyi:MAKLUMAT PEMERINTAHPARTAI POLITIK.Andjuran Pemerintah tentangPembentukan Partai-partai Politik
Berhubung dengan usul Badan Pekerdja Komite Nasional Indonesia Pusat kepada Pemerintah, supaja diberikan kesempatan kepada Rakjat seluas-luasnja untuk mendirikan partai-partai politik, dengan retriksi, bahwa partai-partai politik itu hendaknja memperkuat perdjuangan kita mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan Masjarakat. Pemerintah menegaskan pendiriannja jang telah diambil beberapa waktu yang lalu, bahwa:1.Pemerintah menjukai timbulnja partai-partai politik, karena dengan adanja partai-partai itulah dapat dipimpin ke djalan jang teratur segala aliran paham jang ada dalam masjarakat.2.Pemerintah berharap supaja partai-partai politik itu telah tersusun, sebelumnja dilangsungkan pemilihan anggauta Badan-badan Perwakilan Rakjat pada bulan Djanuari 1946.Djakarta, 3 November 1945Wakil Presiden,MOHAMMAD HATTA.Dengan merujuk pada tonggak keluarnya “Maklumat Pemerintah 3 November 1945” di atas, sebuah tim kecil I:BOEKOE dibentuk untuk menuliskan kembali profil ringkas partai-partai politik Indonesia. Dan lahirlah buku Almanak Abad Partai Indonesia dan Dia.RI Partai Politik. Tujuan penyusunan kedua buku itu tiada lain merupakan usaha dari segelintir kalangan muda untuk merekam biografi partai-partai politik dari masa ke masa yang lahir, berkembang, dan bertarung dalam pemilu di mana kehadirannya telah memberi sederet catatan sejarah perpolitikan Indonesia. Beberapa partai yang tak sempat bertarung di puncak pesta rakyat semacam pemilu pun turut dicatat, sebab kemunculan mereka turut andil memberi refleksi jalan perpolitikan di sebuah negara kepulauan bernama Indonesia ini.Tak hanya menyusun segugusan asal kelompok dan usul ideologi dari partai-partai politik Indonesia sejak Indische Partai (IP) hingga Partai Kerakyatan Nasional (PKN) terbentuk, upaya ini pun menahbiskan sebuah hari yang menjadi pertemuan dari seluruh ingatan kolektif kita dari sekian praktik demokrasi yang sudah dilakukan selama puluhan tahun lengkap dengan cerita baik-buruknya. Jika minat dan perhatian masyarakat selepas Pemilu 2004 dan jelang Pemilu 2009 mulai menurun frekuensinya melihat kinerja partai yang kian lama kian elitis-pragmatis, tak kemudian membuat kita pesimis tentang masa depan kepartaian Indonesia. Sebagaimana Hatta pernah membayangkan masa depan demokrasi Indonesia dalam sebuah Maklumat Politik pada 1 November 1945: “Sejak kita akan mendapat kesempatan yang sepenuhnya untuk memberikan seluruh tenaga kita pada pembangunan rakyat dan bangsa kita, dengan secepat-cepatnya kita berusaha melaksanakan hak-hak rakyat kita yang sesungguhnya sesuai dengan cita-cita United Nations, yaitu tidak saja menjadi rakyat yang merdeka menyatakan pikirannya, merdeka memilih keyakinan dan agamanya, bebas dari sewenang-wenang dan kekuatan, bebas dari kekurangan, melainkan juga menjadi rakyat dan pendidikan yang modern untuk seluruh rakyat kita dan untuk segala lapisan penduduk.”Dengan segala optimisme yang mesti terus dinyalakan bagi masa depan demokrasi Indonesia lewat jalan berpartai, ditegaskan bahwa pada “3 November” menjadi Hari Kebangkitan Partai Indonesia. Inilah hari ketika untuk pertama kalinya secara resmi dari sebuah negara berdaulat, kehadiran partai diakui dan didorong kelahirannya untuk naik panggung, lewat sebuah maklumat pemerintah yang bersejarah yang bertanggal 3 November 1945. Dari momentum lahirnya Maklumat Pemerintah 3 November inilah pelbagai peristiwa berpartai bisa ditarik, dinilai dan dievaluasi, sekaligus menjadi acuan ingatan bersama untuk selalu menjaga semangat awal dari mana kita berpijak mengawal dan merawat demokrasi Indonesia dengan kebebasan berpendapat lewat jalan berpartai.
Berhubung dengan usul Badan Pekerdja Komite Nasional Indonesia Pusat kepada Pemerintah, supaja diberikan kesempatan kepada Rakjat seluas-luasnja untuk mendirikan partai-partai politik, dengan retriksi, bahwa partai-partai politik itu hendaknja memperkuat perdjuangan kita mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan Masjarakat. Pemerintah menegaskan pendiriannja jang telah diambil beberapa waktu yang lalu, bahwa:1.Pemerintah menjukai timbulnja partai-partai politik, karena dengan adanja partai-partai itulah dapat dipimpin ke djalan jang teratur segala aliran paham jang ada dalam masjarakat.2.Pemerintah berharap supaja partai-partai politik itu telah tersusun, sebelumnja dilangsungkan pemilihan anggauta Badan-badan Perwakilan Rakjat pada bulan Djanuari 1946.Djakarta, 3 November 1945Wakil Presiden,MOHAMMAD HATTA.Dengan merujuk pada tonggak keluarnya “Maklumat Pemerintah 3 November 1945” di atas, sebuah tim kecil I:BOEKOE dibentuk untuk menuliskan kembali profil ringkas partai-partai politik Indonesia. Dan lahirlah buku Almanak Abad Partai Indonesia dan Dia.RI Partai Politik. Tujuan penyusunan kedua buku itu tiada lain merupakan usaha dari segelintir kalangan muda untuk merekam biografi partai-partai politik dari masa ke masa yang lahir, berkembang, dan bertarung dalam pemilu di mana kehadirannya telah memberi sederet catatan sejarah perpolitikan Indonesia. Beberapa partai yang tak sempat bertarung di puncak pesta rakyat semacam pemilu pun turut dicatat, sebab kemunculan mereka turut andil memberi refleksi jalan perpolitikan di sebuah negara kepulauan bernama Indonesia ini.Tak hanya menyusun segugusan asal kelompok dan usul ideologi dari partai-partai politik Indonesia sejak Indische Partai (IP) hingga Partai Kerakyatan Nasional (PKN) terbentuk, upaya ini pun menahbiskan sebuah hari yang menjadi pertemuan dari seluruh ingatan kolektif kita dari sekian praktik demokrasi yang sudah dilakukan selama puluhan tahun lengkap dengan cerita baik-buruknya. Jika minat dan perhatian masyarakat selepas Pemilu 2004 dan jelang Pemilu 2009 mulai menurun frekuensinya melihat kinerja partai yang kian lama kian elitis-pragmatis, tak kemudian membuat kita pesimis tentang masa depan kepartaian Indonesia. Sebagaimana Hatta pernah membayangkan masa depan demokrasi Indonesia dalam sebuah Maklumat Politik pada 1 November 1945: “Sejak kita akan mendapat kesempatan yang sepenuhnya untuk memberikan seluruh tenaga kita pada pembangunan rakyat dan bangsa kita, dengan secepat-cepatnya kita berusaha melaksanakan hak-hak rakyat kita yang sesungguhnya sesuai dengan cita-cita United Nations, yaitu tidak saja menjadi rakyat yang merdeka menyatakan pikirannya, merdeka memilih keyakinan dan agamanya, bebas dari sewenang-wenang dan kekuatan, bebas dari kekurangan, melainkan juga menjadi rakyat dan pendidikan yang modern untuk seluruh rakyat kita dan untuk segala lapisan penduduk.”Dengan segala optimisme yang mesti terus dinyalakan bagi masa depan demokrasi Indonesia lewat jalan berpartai, ditegaskan bahwa pada “3 November” menjadi Hari Kebangkitan Partai Indonesia. Inilah hari ketika untuk pertama kalinya secara resmi dari sebuah negara berdaulat, kehadiran partai diakui dan didorong kelahirannya untuk naik panggung, lewat sebuah maklumat pemerintah yang bersejarah yang bertanggal 3 November 1945. Dari momentum lahirnya Maklumat Pemerintah 3 November inilah pelbagai peristiwa berpartai bisa ditarik, dinilai dan dievaluasi, sekaligus menjadi acuan ingatan bersama untuk selalu menjaga semangat awal dari mana kita berpijak mengawal dan merawat demokrasi Indonesia dengan kebebasan berpendapat lewat jalan berpartai.

Judul : Istanbul, Kenangan sebuah kotaPenulis : Orhan PamukPenerjemah : Rahmani AstutiPenerbit : PT. Serambi Ilmu SemestaCetakan : I, Februari 2009Tebal : 363 hlmIstanbul adalah memoar dari peraih nobel sastra 2006 asal Turki, Orhan Pamuk. Namun berbeda dengan memoar-memoar lainnya yang biasanya lebih mengutamakan kisah hidup si penulisnya, dalam memoarnya ini Pamuk tak hanya berkisah mengenai sejarah hidupnya. Dengan cara betutur seperti dalam novel-novelnya , Pamuk mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya yang dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul, kota kelahirannya yang begitu ia cintai. Jadi bisa disimpulkan bahwa buku ini merupakan serpihan-serpihan memoar dan essai panjang Pamuk tentang dirinya danIstanbul
Bagi Pamuk yang begitu lekat dengan kota kelahirannya, takdir Istanbul adalah takdir dirinya sebab Istanbullah yang membuat dirinya seperti sekarang ini. Istanbul baginya adalah mata air yang terus menerus memberinya inspirasi. Tak heran jika sebagian besar novel-novelnya berlatar Istanbul, kota yang merupakan warisan kesultanan Usmani yang tak henti bergumul dengan identitas Barat dan Timur. Begitupun dalam memoarnya ini, di mata Pamuk, Istanbul dimetaforkan sebagai mahluk yang berwajah murung, atau istilah dalam bahasa arabnya adalah “huzun”.
Setelah Kesultanan Usmani ambruk, dunia nyaris lupa bahwa Istanbul ada. Kota tempat saya dilahirkan ini lebih miskin, lebih kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi saya, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan. Saya menghabiskan hidup memerangi kermurungan ini atau (seperti semua penduduk Istanbul) menjadikannya kemurungan saya. (hal 7)
Istanbul modern dalam kacamata Pamuk memang telah mengalami kemunduran sejak jatuhnya Kesultanan dan berdirinya pemintahan Republik dengan reformasinya yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk (pendiri Turki dan presiden pertama Turki). Bagi Ataturk satu-satunya jalan untuk melangkah maju adalah mengembangkan konsep baru mengenai ke-Turkian yag modern, sayangnya konsep ini dilakukan dengan cara melupakan masa lalu sehingga kultur, seperti bahasa dan pakaian tradisional, dilupakan. Bahkan literatur tradisional pun dilupakan.
Kemurungan Istanbullah yang menjadi benang merah seluruh kisah dalam memoarnya ini. Karenanya jangan harap dalam memoarnya ini kita akan disuguhkan panorama keindahan Istanbul, alih-alih membicarakan bangunan megah Hagai Sophia atau situs-situs bersejarah lainnya, kita malah akan disuguhkan deskripsi rumah-rumah kayu yang kumuh yang dibangun diatas reruntuhan bangunan megah dari era kejayaan kesultanan Usmani dan kehancuran puri-puri para Pasha karena tak terawat atau terbakar.
Dalam memoarnya ini, wajah Istanbul modern yang kini semakin carut marut itu dikisahkan secara parallel dengan kehidupan masa lalu Pamuk yang dilahirkan dari keluarga kelas menengah yang hidup dalam budaya sekuler Barat. Dengan begitu hidup Pamuk menceritakan tentang dirinya dan keluarganya, apartemen-apartemen yang pernah didiaminya, jalan-jalan yang sering dilaluinya, peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya, kisah cinta pertamanya yang kandas, serta keinginannya yang besar untuk menjadi pelukis sebelum ia banting setir dan akhirnya memutuskan untuk menjadi penulis.
Karena setiap jejak langkah masa lalu Pamuk senantiasa dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul maka daya pikat memoar ini bukan hanya terletak pengalaman pribadi penulisnya, melainkan dalam identifikasi puitisnya dengan Istanbul . Hasilnya adalah semacam essai yang berisi sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Istanbul baik dari apa yang diperolehnya dari pengalaman dan risetnya sendiri maupun dari catatan orang-orang yang pernah menulis sejarah Istanbul seperti, Yahya Kemal, seorang penyair, Resat Ekrem Kocu, seorang sejarawan, Tampinar, seorang novelis, dan Abdulhak Sinasi Hisar, seorang kronologis. Sedangkan untuk penulis barat terwakili oleh Gerard du Nerval, Teophile Gautier, Gustave Flaubert.
Untuk lebih menghidupi memoarnya ini, Pamuk juga menampilkan ratusan foto hitam putih baik yang berasal dari koleksi keluarga Pamuk sendiri maupun foto-foto Istanbul karya fotografer lokal, Ara Guller. Dan yang tak kalah menarik adalah foto-foto lukisan engraving Antoine-Ignace Melling, pelukis Jerman yang merekam Istanbul di abad ke 18. Jika foto-foto karya Ara Guller didominasi wajah Istanbul modern yang muram, maka pada karya Mellinglah keindahan masa lalu Istanbul terungkap.
Salah satu lukisan karya Melling
Sebagai seorang novelis terkemuka, Pamuk menyajikan memoarnya ini dengan begitu menarik dan hidup sehingga membaca ke 37 bab kisahnya tak membuat kita bosan kendati dia terkadang menceritakan hal-hal yang sederhana yang pernah dialaminya. Hal-hal sederhana itu ia hubungkan dengan, lukisan, buku-buku, landskap, bangunan kuno, legenda, sejarah, politik, dll sehingga potret dirinya dan Istanbul terekam dengan menarik.
Sayangnya memoar Pamuk terhenti di era 70-an ketika Pamuk memutuskan merubah jalan hidupnya dari seorang pelukis menjadi seorang penulis. Jadi dalam memoar setebal 363 halaman ini kita tak akan menemukan jejak Pamuk dan Istabul ketika ia meniti kariernya sebagai seorang penulis. Semenjak kecil hingga menjadi seorang mahasiswa arsitektur tampaknya tak ada tanda-tanda Pamuk yang kelak akan menjadi seorang penulis terkenal kecuali kesenangannya membaca.Akhir kata novel yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 2003 dalam bahasa Turki dengan judul Istanbul : Hatiralar ve Sehir ini memang sangat-sangat menarik, kisah kehidupan Pamuk, pergumulan batinnya , serta responnya atas lingkungan yang membesarkannya membawa pembacanya pada sebuah perenungan yang dalam. Berbagai kisah mengenai Istanbul membuat kita memahami sejarah dan kultur Istanbul modern di tahun 50-70an yang menyiratkan wajah Turki yang murung dan terbelahnya kultur masyarakat Turki antara Islam dan sekularisasi, modern dan tradisional, timur dan barat, yang ternyata masih bisa dirasakan hingga kini.
Seperti yang ditulis oleh Irish Times sebagai pujian untuk buku ini bahwa memoar Pamuk ini layak disejajarkan dengan karya-karya terbaik Pamuk dan buku-buku terbaik yang pernah ditulis mengenai Istanbul. Buku ini wajib dibaca dan kota itu wajib dikunjungi.
Dasar-Dasar Meresensi Buku
Judul Buku : Dasar-Dasar Meresensi BukuPenulis : Daniel SamadPenerbit : GrasindoCetakan : I, 1997Tebal : xi + 83Harga : Rp. 10.000,-Hampir semua surat kabar dan majalah selalu menyediakan kolom resensi setiap minggunya. Bagi para pecinta buku, kolom resensi merupakan kolom yang selalu dinanti-nanti dan dicermati untuk memperoleh informasi mengenai buku yang diresensi.Resensi (bahasa Belanda , recensie) atau 'review' (bahasa Inggris) sendiri berasal dari kata Latin revidere dan resence, artinya melihat kembali,menimbang atau menilai. Di Indonesia, resensi sering juga diistilahkandengan timbangan buku, tinjauan buku, bedah buku, dll. Sedangkan menurutWebster Collegate Dictionary (1995), Review adalah 'a critical evaluation ofa book' karena itu pada hakikatnya resensi haruslah menjelaskan apa adanya suatu buku: kelebihan dan kekurangan buku itu. Jadi resensi bukanlah tulisanyang "menjual" buku. Tidak ada pesan sponsor bagi resensi buku; karena ituresensi yang baik hanya mengungkapkan apa yang dibaca oleh peresensi secara kritis.Bagaimana membuat resensi sesuai dengan definisi resensi diatas? Buku karyawartawan senior Daniel Samad ini menyajikan tips-tips mendasar dan praktisbagaimana meresensi sebuah buku. Buku ini dibagi menjadi 5 buah ab yangdisusun secara sistimatis, dimulai dari Pengertian Resensi, MembuatPembukaan, Cara merumuskan Tubuh Resensi, Mengakhiri Resensi dan MeresensiBuku Sastra. Pada bab Membuat Pembukaan (bab 2) hingga bab MengakhiriResensi (bab 4) penulis buku ini selalu memberikan contoh-contoh paragrafresensi yang diambil dari berbagai resensi yang pernah dimuat di media masa.Tentu saja hal ini memudahkan pembaca buku ini dalam memahami danmempelajari teknik-teknik menulis resensi. Di bagian Mengakhiri Resensi (bab4) penulis juga memberikan berbagai tips bagaimana menyunting naskah,memotong kalimat, mempertimbangkan paragraf dan contoh bagaimana caramenulis surat pengantar untuk redaksi media yang akan dikirimi resensi..Jika bab 2 - 4 menyajikan teknik meresensi buku non fiksi maka di bagianterakhir buku ini terdapat bab khusus yang membahas Meresensi Buku Sastra(bab 5) yang mencakup bagaimana langkah-langkah mengapresiasi, bagaimanameresensi buku kumpulan puisi, novel dan kumpulan cerpen. Buku ini jugadilengkapi dengan lampiran alamat surat kabar dan majalah yang memuat kolomresensi.Buku tipis ini (83 halaman) ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudahdimengerti , praktis dan sistematis dalam mengurai bab-bab didalamnyasehingga membuat pembaca buku ini seolah sedang diajari secara langsung olehseorang peresensi handal. Dengan kepraktisan dan uraiannya yang baik bukuini bisa dibaca oleh siapa saja yang berniat untuk belajar meresensi sebuahbuku. Walau bukan buku baru (pertama kali diterbitkan pada tahun 1997),namun buku ini tetap relevan untuk tetap dibaca dan dipelajari , buku inipunsepertinya tidak sulit diperoleh di toko-toko buku besar hingga kini.
Senin, 23 Februari 2009
Kentut Kosmopolitan
Oleh: Seno Gumira Ajidarma
Di Jakarta berbagai hal dapat terjadi, mulai dari hal yang masuk akal, sampai hal-hal yang membalik-balikan logika. Hal inilah yang kemudian menjadi ciri manusia Jakarta atau yang dalam buku ini diistilahkan sebagai Homo Jakartensis.Secara umum manusia Jakarta memang tidak beda dengan manusia yang hidup di kota-kota lain. Jika manusia Jakarta minum kopi, manusia di Wonosari juga tidak sedikit yang gemar ngopi. Jika manusia Jakarta mandi memakai sabun, toh manusia di Ciranjang pun mandi memakai sabun.Namun yang membedakan manusia Jakarta dengan manusia di kota lain adalah cara dalam memaknai kegiatan fungsional tadi, ngopi misalnya. Bagi manusia Jakarta, minum kopi tidak sekadar menyeruput minuman berwarna hitam kecoklatan itu, tetapi di sana juga terdapat selera, cara memilih dan jugasoal citraSalah satu contoh yang dikedepankan oleh Seno untuk menandai fenomena ini adalah hal makan. Makan bukan sekadar makan enak sesuai selera dan sekaligus mengenyangkan, tetapi juga memiliki makna simbolik. Makan di warung tenda yang menyajikan masakan Sunda, jelas berbeda dengan makan di restoran Dapur Sunda yang ber-AC dengan pelayan-pelayan yang ramah.Akibatnya, kalau mau pamer, mengajak seluruh keluarga untuk pesta makan, siapkanlah uang sebanyak-banyaknya. Tetapi, kalau ingin makan dengan selera sendiri, meskipun masih memakai dasi, berpanas-panas di warung tenda pun jadi.Kemudian soal mobil. Mobil ternyata tidak melulu alat transportasi, namun juga merupakan prestise, sebuah identitas bagi pemiliknya. Kehormatan pun diterjemahkan pada simbol mobil tersebut. Tidak heran jika bemper mobil tersebut lecet atau penyok karena terserempet, maka seakan-akan ikut lecet dan penyok pula harga diri dan kehormatan pemiliknya.Padahal itulah fungsi bemper, yakni untuk menahan agar benturan dari mobil lain tidak langsung mengenai body mobil. Bukankah sebaiknya bemper yang penyok dari pada body mobil yang penyok.Dari beberapa contoh peristiwa di atas tampak bagaimana citra, nilai dan gaya menjadi hal yang penting bagi manusia Jakarta. Uniknya proses ini terus menerus berputar selama manusia Jakarta itu ada. Dengan citra dan gaya inilah berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan mudah.Dalam dunia bisnis misalnya, memperlihatan citra bonifide perusahaan menjadi elemen yang sangat penting. Tidak heran jika sebuah kantor dengan sengaja membeli lukisan berharga ratusan juta rupiah untuk dipasang di lobby kantor agar timbul kesan direktur perusahan tersebut adalah orang yang tahu banyak soal seni.Di dalam buku ini Seno memang seolah ingin menelanjangi manusia-manusia Jakarta. Ia seperti ingin menunjukkan di balik penampilan manusia Jakarta yang bekesan megah, mewah, dan gemerlap justru terdapat kekacauan, keanehan, dan disoreintasi yang kronis.Kumpulan kolom ini adalah mengenai absurditas manusia Jakarta. Apakah absurditas ini adalah sesuatu yang salah atau keliru? Seno tidak secara terang-terangan mengatakannya, namun paling tidak ia mengajak pembaca untuk melihat sebuah gejala sosiologis yang terjadi pada manusia Jakarta.***
Di Jakarta berbagai hal dapat terjadi, mulai dari hal yang masuk akal, sampai hal-hal yang membalik-balikan logika. Hal inilah yang kemudian menjadi ciri manusia Jakarta atau yang dalam buku ini diistilahkan sebagai Homo Jakartensis.Secara umum manusia Jakarta memang tidak beda dengan manusia yang hidup di kota-kota lain. Jika manusia Jakarta minum kopi, manusia di Wonosari juga tidak sedikit yang gemar ngopi. Jika manusia Jakarta mandi memakai sabun, toh manusia di Ciranjang pun mandi memakai sabun.Namun yang membedakan manusia Jakarta dengan manusia di kota lain adalah cara dalam memaknai kegiatan fungsional tadi, ngopi misalnya. Bagi manusia Jakarta, minum kopi tidak sekadar menyeruput minuman berwarna hitam kecoklatan itu, tetapi di sana juga terdapat selera, cara memilih dan jugasoal citraSalah satu contoh yang dikedepankan oleh Seno untuk menandai fenomena ini adalah hal makan. Makan bukan sekadar makan enak sesuai selera dan sekaligus mengenyangkan, tetapi juga memiliki makna simbolik. Makan di warung tenda yang menyajikan masakan Sunda, jelas berbeda dengan makan di restoran Dapur Sunda yang ber-AC dengan pelayan-pelayan yang ramah.Akibatnya, kalau mau pamer, mengajak seluruh keluarga untuk pesta makan, siapkanlah uang sebanyak-banyaknya. Tetapi, kalau ingin makan dengan selera sendiri, meskipun masih memakai dasi, berpanas-panas di warung tenda pun jadi.Kemudian soal mobil. Mobil ternyata tidak melulu alat transportasi, namun juga merupakan prestise, sebuah identitas bagi pemiliknya. Kehormatan pun diterjemahkan pada simbol mobil tersebut. Tidak heran jika bemper mobil tersebut lecet atau penyok karena terserempet, maka seakan-akan ikut lecet dan penyok pula harga diri dan kehormatan pemiliknya.Padahal itulah fungsi bemper, yakni untuk menahan agar benturan dari mobil lain tidak langsung mengenai body mobil. Bukankah sebaiknya bemper yang penyok dari pada body mobil yang penyok.Dari beberapa contoh peristiwa di atas tampak bagaimana citra, nilai dan gaya menjadi hal yang penting bagi manusia Jakarta. Uniknya proses ini terus menerus berputar selama manusia Jakarta itu ada. Dengan citra dan gaya inilah berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan mudah.Dalam dunia bisnis misalnya, memperlihatan citra bonifide perusahaan menjadi elemen yang sangat penting. Tidak heran jika sebuah kantor dengan sengaja membeli lukisan berharga ratusan juta rupiah untuk dipasang di lobby kantor agar timbul kesan direktur perusahan tersebut adalah orang yang tahu banyak soal seni.Di dalam buku ini Seno memang seolah ingin menelanjangi manusia-manusia Jakarta. Ia seperti ingin menunjukkan di balik penampilan manusia Jakarta yang bekesan megah, mewah, dan gemerlap justru terdapat kekacauan, keanehan, dan disoreintasi yang kronis.Kumpulan kolom ini adalah mengenai absurditas manusia Jakarta. Apakah absurditas ini adalah sesuatu yang salah atau keliru? Seno tidak secara terang-terangan mengatakannya, namun paling tidak ia mengajak pembaca untuk melihat sebuah gejala sosiologis yang terjadi pada manusia Jakarta.***
Presiden Guyonan

Judul: Presiden Guyonan
Penulis: Butet KartaredjasaTebal: xxiv + 285 halaman
Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta,Terbit: November 2008
Sebuah surat kabar memuat ratusan berita setiap harinya. Berbagai peristiwa dihadirkan ke hadapan pembaca.secara bertubui-tubi. Isu demi isu terus berganti setiap minggunya. Nyaris tidak ada isu yang dapat bertahan lama. Pembaca pun seperti mengalami amnesia isu.Ini adalah konsekuensi dari media massa yang selalu mengutamakan aktualitas. Aktualitas dan kecepatan menyiarkan sebuah berita menjadi menjadi sebuah keharusan. Padahal kedalaman sebuah berita juga diperlukan agar dimensi-dimensi dari sebuah berita dapat ditangkap oleh pembaca.
Oleh sebab itu, harus ada sebuah cara agar isu-isu yang mengemuka di media masa tidak terlindas begitu saja oleh isu-isu lain yang terus menjejali ruang pikiran pembaca. Cara ini harus dapat mengajak pembaca untuk melihat dimensi-dimensi lain dari sebuah peristiwa, merenungkan, merefleksikan, dan bahkan menginterpretasikannya
Untuk itulah sebuah kolom hadir di surat kabar. Kolom tidak hadir dengan perhitungan kecepatan dan aktualitas, meskipun persoalan yang dikemukakan dapat saja merupakan sesuatu yang aktual, tetapi selalu mengajak pembaca untuk sejenak melongok peristiwa tersebut dan memberikan diri untuk merenungkannya.
Tentu saja, untuk mencapai hal ini kolom harus hadir dengan format dan caranya yang berbeda dan khas. Di sinilah kepiawaian seorang penulis kolom dibutuhkan, dan Butet Kartaredjasa telah memilih caranya sendiri untuk mengajak pembaca melihat secara reflektif realitas yang ada di sekitarnya.
Untuk mengajak pembaca merenungkan persoalan atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat, Butet menghadirkan tulisan-tulisan yang dapat mengundang pembaca tersenyum atau bahkan tertawa. Kolom-kolomnya tidak hadir dengan cara yang memberat karena ia tahu, apabila persoalan yang disampaikannya saja sudah berat, maka tidak perlu lagi memberikan beban kepada pembaca dengan menghadirkan tulisan-tulisan yang sulit diicerna. Di sinilah letak salah satu kekuatan kolom-kolom ini.
Kelebihan lain kolom-kolom Butet yang pernah dimuat di harian Suara Merdeka di Semarang ini adalah hadirnya tokoh Mas Celathu bersama anggota keluarganya, yakni Mbakyu Celathu, istrinya, serta anak-anaknya. Lewat tokoh-tokoh inilah Butet menyajikan isu-isu penting yang mungkin terlupakan dalam dinamika kerja sebuah media.
Namun tokoh sentral Mas Celathu memang sangat dominan dalam kolom-kolom Butet ini. Lewat sosok inilah Butet menyampaikan buah pikirannya. Tokoh ini digambarkannya sering muncul dengan kegelisahan-kegelisahan, kegeraman-kegeraman, dan bahkan dengan kebingungan-kebingungannya sendiri, yang merupakan respon dari apa yang dilihat dan dicermati dari lingkungannya.
Mas Celtahu juga bukan hanya sosok sederhana yang terkadang terkesan selalu bebas berbicara, tukang njeplak, dan tajam dalam mengritik, tapi juga sering muncul dengan gagasan yang melawan mainstream. Sebut saja ketika ia bicara soal gay dan lesbian dalam kolomnya yang berjudul Psikopat Anyar. Dalam tulisan ini dikisahkan bagaimana Mas Celathu mencoba meluruskan anggapan umum masyarakat mengenai para gay dan lesbian yang terlanjur diberi cap negatif. Mas Celathu digambarkan mengajak masyarakat untuk menghargai keberadaan kelompok ini. Gay dan lesbian tidak selalu identik dengan pembunuhan kejam, mutilasi atau berbagai kejahatan lain. Justru mereka yang berprofesi mulia, dijangkiti sindrom psikopat.Tidak hanya itu, Mas Celathu pun acap kali tergoda dan ”gatal” untuk memberikan komentar, tanggapan, pujian ataupun ejekan dari apa yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini sesuai dengan istilah celathu, yang dalam bahasa Jawa dapat berarti nyeletuk, menyahut, atau "menyambar" omongan orang lain. Alhasil, dengan cara yang jenaka, pentolan teater Gandrik ini, mengritik dan mengolok-olok berbagai kejadian atau keadaan yang menurutnya tidak tepat, melanggar aturan, ataupun keliru sama sekali.
Tetapi Butet tidak selalu memoisisikan Mas Celathu sebagai pengritik yang selalu bersih sehingga seakan-akan punya otoritas menunjuk kesalahan orang lain alias menghakimi. Di sisi lain justru ia menghadirkan Mas Celathu sebagai sosok yang manusiawi, yang sering khilaf, berbuat kekliruan, yang terkadang justru terjebak dalam kondisi atau persoalan yang sebelumnya sering ia kritik.
Simak saja di kolom berjudul Isteri Bernyali. Dalam kolom ini dikisahkan Mas Celathu tergoda untuk "berbisnis" di lokasi yang tertimpa bencana alam. Ia melihat di lokasi bencana alam inilah ia bisa meraup keuntungan dengan berdagang berbagai benda yang dibutuhkan oleh mereka yang tertimpa bencana alam. Namun ide tersebut dimentahkan begitu saja oleh sang istri. Sang istri menilai gagasan tersebut tidak etis karena mencari keuntungan di atas kesusahan orang lain. Diserang seperti itu, Mas Celathu pun mengkeret tak berkutik. Rupanya Mas Celathu yang doyan memarahi penguasa pun bisa tunduk terhadap istrinya.
Salah satu kelebihan kolom-kolom dalam Presiden Guyonan ini adalah bagaimana Butet memakai istilah-istilah dalam bahasa Jawa. Ini wajar saja, sebab kolom ini memang hadir di tengah-tengah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa. Tetapi toh persoalan yang disampaikan bukan persoalan primordial, tetapi persoalan yang lebih luas lagi spekttrumnya, persoalan. Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa justru membuat kolom ini lebih hidup, lebih "berbumbu" sehingga unsur humor yang dibangun di dalamnya lebih kental. Mereka yang tidak terlalu paham bahasa Jawa dapat melihat arti atau makna dari istilah-istilah tersebut di bagian akhir buku ini.
Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa yang dilakukan oleh Butet tersebut, mengingatkan kita kepada kolom-kolom almarhum Umar Kayam yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Dalam kolom-kolom tersebut Umar Kayam juga menggunakan istilah-istilah Jawa yang begitu mengena. Dengan istilah-istilah itu justru sendirian, ejekan, ataupun kritik yang dilontarkan menjadi lebih "ciamik" untuk dinikmati.
Catatan lain dari kolom-kolom Butet ini adalah, ia menggunakan "logika terbalik" untuk memaknai masalah-masalah yang ditulis. Hal yang dimaksudkan di sini adalah, apabila sebuah persoalan dipandang serius, seseorang cenderung merseponnya dengan serius pula. Bahkan, sejumlah teori Barat--baik teori politik, ekonomi atau sosial--digunakan untuk memaknai dan mencarikan jalan keluar dari persoalan yang ada.
Namun tidak demikian dengan Butet. Dalam kolom-kolomnya ini, ia justru merseponnya dengan cara yang ringan, sederhana, bahkan cenderung melucu. Persoalan-persoalan yang ada selalu dihampirinya dengan cara yang membuat orang tergelitik. Inilah yang dimaksudkan "logika terbalik". Sesuatu yang tampak serius, ”angker” atau bahkan elit, di kolom-kolom justru diresponnya hanya dengan tertawa. Di sini Butet seperti ingin mengajak pembaca menghampiri setiap masalah dengan cara yang terbalik. Ia seperti ingin berkata, buat apa susah-susah merunyamkan pikiran hanya karena memikirkan persoalan yang sudah terlalu ruwet. Lebih baik hadapi saja dengan senyum. Buat apa mengerutkan dahi karena melihat kesedihan yang terlampau menyedihkan, lebih baik tertawa saja agar kesedihan itu lebih dapat dapat terobati.***
Penulis: Butet KartaredjasaTebal: xxiv + 285 halaman
Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta,Terbit: November 2008
Sebuah surat kabar memuat ratusan berita setiap harinya. Berbagai peristiwa dihadirkan ke hadapan pembaca.secara bertubui-tubi. Isu demi isu terus berganti setiap minggunya. Nyaris tidak ada isu yang dapat bertahan lama. Pembaca pun seperti mengalami amnesia isu.Ini adalah konsekuensi dari media massa yang selalu mengutamakan aktualitas. Aktualitas dan kecepatan menyiarkan sebuah berita menjadi menjadi sebuah keharusan. Padahal kedalaman sebuah berita juga diperlukan agar dimensi-dimensi dari sebuah berita dapat ditangkap oleh pembaca.
Oleh sebab itu, harus ada sebuah cara agar isu-isu yang mengemuka di media masa tidak terlindas begitu saja oleh isu-isu lain yang terus menjejali ruang pikiran pembaca. Cara ini harus dapat mengajak pembaca untuk melihat dimensi-dimensi lain dari sebuah peristiwa, merenungkan, merefleksikan, dan bahkan menginterpretasikannya
Untuk itulah sebuah kolom hadir di surat kabar. Kolom tidak hadir dengan perhitungan kecepatan dan aktualitas, meskipun persoalan yang dikemukakan dapat saja merupakan sesuatu yang aktual, tetapi selalu mengajak pembaca untuk sejenak melongok peristiwa tersebut dan memberikan diri untuk merenungkannya.
Tentu saja, untuk mencapai hal ini kolom harus hadir dengan format dan caranya yang berbeda dan khas. Di sinilah kepiawaian seorang penulis kolom dibutuhkan, dan Butet Kartaredjasa telah memilih caranya sendiri untuk mengajak pembaca melihat secara reflektif realitas yang ada di sekitarnya.
Untuk mengajak pembaca merenungkan persoalan atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat, Butet menghadirkan tulisan-tulisan yang dapat mengundang pembaca tersenyum atau bahkan tertawa. Kolom-kolomnya tidak hadir dengan cara yang memberat karena ia tahu, apabila persoalan yang disampaikannya saja sudah berat, maka tidak perlu lagi memberikan beban kepada pembaca dengan menghadirkan tulisan-tulisan yang sulit diicerna. Di sinilah letak salah satu kekuatan kolom-kolom ini.
Kelebihan lain kolom-kolom Butet yang pernah dimuat di harian Suara Merdeka di Semarang ini adalah hadirnya tokoh Mas Celathu bersama anggota keluarganya, yakni Mbakyu Celathu, istrinya, serta anak-anaknya. Lewat tokoh-tokoh inilah Butet menyajikan isu-isu penting yang mungkin terlupakan dalam dinamika kerja sebuah media.
Namun tokoh sentral Mas Celathu memang sangat dominan dalam kolom-kolom Butet ini. Lewat sosok inilah Butet menyampaikan buah pikirannya. Tokoh ini digambarkannya sering muncul dengan kegelisahan-kegelisahan, kegeraman-kegeraman, dan bahkan dengan kebingungan-kebingungannya sendiri, yang merupakan respon dari apa yang dilihat dan dicermati dari lingkungannya.
Mas Celtahu juga bukan hanya sosok sederhana yang terkadang terkesan selalu bebas berbicara, tukang njeplak, dan tajam dalam mengritik, tapi juga sering muncul dengan gagasan yang melawan mainstream. Sebut saja ketika ia bicara soal gay dan lesbian dalam kolomnya yang berjudul Psikopat Anyar. Dalam tulisan ini dikisahkan bagaimana Mas Celathu mencoba meluruskan anggapan umum masyarakat mengenai para gay dan lesbian yang terlanjur diberi cap negatif. Mas Celathu digambarkan mengajak masyarakat untuk menghargai keberadaan kelompok ini. Gay dan lesbian tidak selalu identik dengan pembunuhan kejam, mutilasi atau berbagai kejahatan lain. Justru mereka yang berprofesi mulia, dijangkiti sindrom psikopat.Tidak hanya itu, Mas Celathu pun acap kali tergoda dan ”gatal” untuk memberikan komentar, tanggapan, pujian ataupun ejekan dari apa yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini sesuai dengan istilah celathu, yang dalam bahasa Jawa dapat berarti nyeletuk, menyahut, atau "menyambar" omongan orang lain. Alhasil, dengan cara yang jenaka, pentolan teater Gandrik ini, mengritik dan mengolok-olok berbagai kejadian atau keadaan yang menurutnya tidak tepat, melanggar aturan, ataupun keliru sama sekali.
Tetapi Butet tidak selalu memoisisikan Mas Celathu sebagai pengritik yang selalu bersih sehingga seakan-akan punya otoritas menunjuk kesalahan orang lain alias menghakimi. Di sisi lain justru ia menghadirkan Mas Celathu sebagai sosok yang manusiawi, yang sering khilaf, berbuat kekliruan, yang terkadang justru terjebak dalam kondisi atau persoalan yang sebelumnya sering ia kritik.
Simak saja di kolom berjudul Isteri Bernyali. Dalam kolom ini dikisahkan Mas Celathu tergoda untuk "berbisnis" di lokasi yang tertimpa bencana alam. Ia melihat di lokasi bencana alam inilah ia bisa meraup keuntungan dengan berdagang berbagai benda yang dibutuhkan oleh mereka yang tertimpa bencana alam. Namun ide tersebut dimentahkan begitu saja oleh sang istri. Sang istri menilai gagasan tersebut tidak etis karena mencari keuntungan di atas kesusahan orang lain. Diserang seperti itu, Mas Celathu pun mengkeret tak berkutik. Rupanya Mas Celathu yang doyan memarahi penguasa pun bisa tunduk terhadap istrinya.
Salah satu kelebihan kolom-kolom dalam Presiden Guyonan ini adalah bagaimana Butet memakai istilah-istilah dalam bahasa Jawa. Ini wajar saja, sebab kolom ini memang hadir di tengah-tengah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa. Tetapi toh persoalan yang disampaikan bukan persoalan primordial, tetapi persoalan yang lebih luas lagi spekttrumnya, persoalan. Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa justru membuat kolom ini lebih hidup, lebih "berbumbu" sehingga unsur humor yang dibangun di dalamnya lebih kental. Mereka yang tidak terlalu paham bahasa Jawa dapat melihat arti atau makna dari istilah-istilah tersebut di bagian akhir buku ini.
Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa yang dilakukan oleh Butet tersebut, mengingatkan kita kepada kolom-kolom almarhum Umar Kayam yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Dalam kolom-kolom tersebut Umar Kayam juga menggunakan istilah-istilah Jawa yang begitu mengena. Dengan istilah-istilah itu justru sendirian, ejekan, ataupun kritik yang dilontarkan menjadi lebih "ciamik" untuk dinikmati.
Catatan lain dari kolom-kolom Butet ini adalah, ia menggunakan "logika terbalik" untuk memaknai masalah-masalah yang ditulis. Hal yang dimaksudkan di sini adalah, apabila sebuah persoalan dipandang serius, seseorang cenderung merseponnya dengan serius pula. Bahkan, sejumlah teori Barat--baik teori politik, ekonomi atau sosial--digunakan untuk memaknai dan mencarikan jalan keluar dari persoalan yang ada.
Namun tidak demikian dengan Butet. Dalam kolom-kolomnya ini, ia justru merseponnya dengan cara yang ringan, sederhana, bahkan cenderung melucu. Persoalan-persoalan yang ada selalu dihampirinya dengan cara yang membuat orang tergelitik. Inilah yang dimaksudkan "logika terbalik". Sesuatu yang tampak serius, ”angker” atau bahkan elit, di kolom-kolom justru diresponnya hanya dengan tertawa. Di sini Butet seperti ingin mengajak pembaca menghampiri setiap masalah dengan cara yang terbalik. Ia seperti ingin berkata, buat apa susah-susah merunyamkan pikiran hanya karena memikirkan persoalan yang sudah terlalu ruwet. Lebih baik hadapi saja dengan senyum. Buat apa mengerutkan dahi karena melihat kesedihan yang terlampau menyedihkan, lebih baik tertawa saja agar kesedihan itu lebih dapat dapat terobati.***
Langganan:
Postingan (Atom)
